Hadiah Mewah YouTuber AS untuk Timnas Meksiko Dikembalikan: Melanggar Aturan FIFA
Baca dalam 60 detik
- Timnas Meksiko mengembalikan jam tangan Rolex senilai Rp11,6 miliar dari YouTuber Stevewilldoit karena melanggar kode etik FIFA.
- Aturan FIFA melarang penerimaan hadiah bernilai lebih dari simbolis, memicu diskusi soal batasan sponsor dan pengaruh kreator konten di sepak bola.
- Kasus ini menjadi pengingat bagi federasi sepak bola di Asia, termasuk Indonesia, untuk memperketat pengawasan penerimaan hadiah dari pihak ketiga.

Tim nasional Meksiko terpaksa mengembalikan jam tangan mewah pemberian seorang kreator konten asal Amerika Serikat, Stevewilldoit, setelah pemberian tersebut dinilai melanggar kode etik FIFA. Insiden ini terjadi hanya sehari sebelum Meksiko bertanding melawan Inggris di Stadion Azteca, Mexico City, pada babak 16 besar Piala Dunia 2026.
Stephen Deleonardis, yang dikenal dengan nama Stevewilldoit, mengaku telah menghabiskan 1 juta dolar AS (sekitar Rp11,6 miliar) untuk membelikan jam tangan Rolex bagi setiap pemain dan staf Meksiko. Ia memberikan hadiah tersebut saat bertemu skuad pada Senin lalu, sehari sebelum Meksiko mengalahkan Ekuador di babak 32 besar. Namun, FIFA melalui Pasal 21 Kode Etiknya melarang pemberian atau penerimaan hadiah yang memiliki nilai lebih dari "simbolis atau sepele".
Keputusan untuk mengembalikan jam tangan tersebut diumumkan melalui akun resmi tim Meksiko di platform X. Dalam pernyataannya, tim menyebutkan bahwa pengembalian dilakukan "atas kesepakatan bersama" dan menegaskan bahwa Stevewilldoit memberikan hadiah tersebut "atas inisiatifnya sendiri". Langkah ini diambil untuk menghindari sanksi lebih lanjut dari FIFA, mengingat turnamen masih berlangsung dan Meksiko berambisi menembus perempat final untuk pertama kalinya sejak menjadi tuan rumah Piala Dunia 1986.
Kode etik FIFA memang dirancang untuk menjaga integritas sepak bola dari pengaruh komersial yang berlebihan. Namun, kasus ini menyoroti celah regulasi di era digital, di mana kreator konten dengan pengikut jutaan orang bisa dengan mudah memberikan hadiah mahal kepada atlet. Menurut analis olahraga, tindakan Stevewilldoit bisa dianggap sebagai bentuk promosi diri yang memanfaatkan popularitas tim nasional, meskipun ia mengklaim niatnya murni apresiasi.
Implikasi dari insiden ini tidak hanya terbatas pada Meksiko. Di Indonesia, fenomena kreator konten yang memberikan hadiah kepada atlet atau tim sepak bola juga mulai marak. Beberapa waktu lalu, seorang YouTuber Indonesia sempat memberikan hadiah berupa sepeda motor kepada pemain timnas. Jika tidak diatur, praktik serupa bisa melanggar kode etik FIFA dan berujung sanksi bagi federasi sepak bola Indonesia (PSSI).
Menurut pengamat hukum olahraga, federasi nasional seharusnya memiliki pedoman internal yang lebih ketat terkait penerimaan hadiah dari pihak ketiga. "Ini bukan hanya soal nilai barang, tetapi juga potensi konflik kepentingan dan pengaruh yang tidak semestinya terhadap tim," ujarnya. PSSI sendiri belum memiliki aturan spesifik mengenai hal ini, meskipun telah mengadopsi prinsip-prinsip tata kelola FIFA.
Ke depannya, FIFA mungkin perlu memperbarui kode etiknya untuk mengakomodasi tantangan era digital, termasuk pemberian hadiah oleh kreator konten. Pertanyaan yang muncul: apakah aturan saat ini sudah cukup fleksibel untuk membedakan antara apresiasi tulus dan promosi terselubung? Atau justru perlu ada sanksi yang lebih tegas bagi pemberi hadiah, bukan hanya penerima? Kasus Meksiko bisa menjadi preseden penting bagi dunia sepak bola global.



