Paraguay Tersingkir Dramatis: Pelatih Alfaro Bicara Luka Terbuka dan Masa Depan
Baca dalam 60 detik
- Paraguay harus mengakui keunggulan Prancis 1-0 di babak 16 besar Piala Dunia 2026 setelah penalti kontroversial hasil tinjauan VAR.
- Pelatih Gustavo Alfaro enggan menyalahkan wasit meski mengaku masih diliputi kekecewaan mendalam atas kekalahan tersebut.
- Kontrak Alfaro bersama tim nasional Paraguay akan berakhir akhir tahun ini, dan ia belum memutuskan langkah karier selanjutnya.

Pelatih tim nasional Paraguay, Gustavo Alfaro, harus menerima kenyataan pahit setelah anak asuhnya tersingkir dari Piala Dunia 2026 usai dikalahkan Prancis 1-0 di babak 16 besar, Kamis (4/7) waktu setempat. Gol semata wayang Les Bleus lahir dari titik putih yang diputuskan wasit setelah meninjau tayangan ulang VAR, memicu perdebatan sengit di kalangan pendukung Albirroja.
Wasit asal Uzbekistan, Ilgiz Tantashev, awalnya tidak menganggap pelanggaran terjadi saat Desire Doue jatuh di kotak penalti akibat tekel Diego Gomez. Namun setelah dipanggil ke monitor VAR, ia berbalik menunjuk titik putih. Keputusan itu langsung dimanfaatkan Prancis untuk mengunci kemenangan dan melaju ke perempat final.
Alfaro mengaku tidak bisa bersikap objektif saat melihat tayangan ulang dari belakang wasit. "Saya melihatnya di layar VAR ketika mereka memeriksanya. Wasit punya kesan pertama bahwa pemain itu sengaja mencari kontak. Tapi VAR kemudian mengonfirmasi itu penalti," ujarnya dalam konferensi pers usai laga. Meski kecewa, pelatih berusia 63 tahun itu menolak mengkritik keputusan wasit.
Kekalahan ini menjadi antiklimaks bagi Paraguay yang sebelumnya menciptakan kejutan dengan menyingkirkan Jerman melalui adu penalti di babak 32 besar. Presiden Paraguay Santiago Pena bahkan menetapkan hari Selasa sebagai hari libur nasional untuk merayakan pencapaian tersebut. Namun euforia itu sirna setelah langkah Albirroja terhenti di tangan Prancis.
Alfaro mengakui ada konflik emosi yang ia rasakan. "Saya meninggalkan Piala Dunia dengan ketenangan karena kami sudah bermain. Tapi saya sedih karena ingin melangkah lebih jauh. Kekalahan tidak akan pernah membuat Anda bahagia," tuturnya. Pelatih asal Argentina itu menambahkan bahwa menjadi pemenang berarti harus belajar menerima kekalahan terlebih dahulu.
Masa depan Alfaro kini menjadi tanda tanya. Kontraknya bersama federasi sepak bola Paraguay akan habis pada akhir tahun ini. Pelatih yang sebagian besar kariernya dihabiskan di liga domestik Argentina itu mengaku belum bisa berpikir jernih. "Hari ini luka saya masih terbuka. Saya masih berdarah. Saya tidak bisa merenung karena masih diliputi perasaan. Saya perlu menunggu semuanya tenang dulu," ujarnya.
Meski begitu, Alfaro menyimpan rasa hormat mendalam kepada Paraguay. "Tidak ada tempat yang lebih baik dari Paraguay. Negara ini membuka pintu untuk saya, klub-klub membuka pintu, hubungan saya dengan pemain dan rasa terima kasih saya kepada semua orang sangat besar," katanya. Namun ia belum bisa memastikan akan melanjutkan karier kepelatihan atau mengambil jeda.
Bagi Indonesia, perjalanan Paraguay di Piala Dunia 2026 menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya konsistensi dan mentalitas juara. Tim-tim Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang mulai bermimpi tampil di Piala Dunia, bisa mencontoh bagaimana Paraguay mampu bersaing dengan raksasa Eropa meski akhirnya tersingkir. Kejutan Paraguay atas Jerman membuktikan bahwa peringkat FIFA bukanlah segalanya di turnamen sekelas Piala Dunia.
Pertanyaan besarnya: akankah Alfaro bertahan dan membangun kembali Paraguay untuk Piala Dunia 2030? Atau justru ia akan mencari tantangan baru di klub atau negara lain? Keputusan itu masih menunggu waktu, seperti halnya luka yang masih menganga di hati pelatih berusia 63 tahun tersebut.



