Gelombang Panas Jepang Picu Perang Produk Tabir Surya Khusus Pria
Baca dalam 60 detik
- Produsen kosmetik Jepang meluncurkan tabir surya khusus pria dengan tekstur ringan dan anti lengket untuk merespons cuaca ekstrem.
- Riset menunjukkan peningkatan 10-15% pria Jepang yang merawat kulit sejak 2022, didorong tren kerja jarak jauh dan perpanjangan usia pensiun.
- Inovasi seperti ekstrak teh dan teknologi anti bau menjadi pembeda utama produk anyar yang menyasar pria paruh baya.

Tokyo โ Produsen barang konsumen Jepang berlomba menghadirkan produk perlindungan sinar ultraviolet (UV) yang dirancang khusus untuk pria di tengah gelombang panas yang melanda negeri Sakura. Berbeda dari tabir surya konvensional yang cenderung berminyak, produk anyar ini mengedepankan tekstur ringan dan tidak lengket, sebuah strategi untuk menarik minat konsumen pria yang selama ini kerap mengabaikan perawatan kulit.
Fenomena ini bukan sekadar tren kosmetik. Perubahan demografi dan kebiasaan sosial turut mendorong pertumbuhan pasar. Survei yang dilakukan Suntory Wellness menunjukkan jumlah pria yang peduli pada kesehatan kulitnya pada 2026 meningkat 10โ15 persen dibandingkan empat tahun sebelumnya. Pertumbuhan paling signifikan terjadi pada kelompok usia 40โ50 tahun, segmen yang selama ini jarang menjadi sasaran pemasaran produk kecantikan.
Salah satu pemicunya adalah meluasnya kebiasaan bekerja dari rumah. Intensitas rapat virtual membuat banyak pria lebih sering melihat wajahnya sendiri di layar, sehingga kesadaran akan penampilan pun naik. Di sisi lain, perpanjangan usia pensiun dan tren rekrutmen kembali setelah purna bakti membuat para pekerja senior merasa perlu tampil rapi dan segar demi menjaga citra profesional.
Shiseido, raksasa kosmetik asal Jepang, menjadi salah satu pemain pertama yang merespons kebutuhan ini. Pada Maret lalu, perusahaan meluncurkan Anessa Multi-Control UV Sunscreen Gel, produk 40 gram yang diformulasikan untuk digunakan setelah membersihkan wajah. Keunggulannya terletak pada sensasi ringan yang tetap terasa nyaman di kulit pria yang cenderung lebih berminyak. Produk ini juga berfungsi ganda sebagai toner dan pelembap, sehingga memangkas langkah perawatan kulit harian menjadi satu aplikasi saja.
Pendekatan serupa dilakukan I-ne Co., produsen produk kecantikan asal Osaka. Melalui merek Murphy yang khusus menyasar perawatan pria, perusahaan meluncurkan gel all-in-one medicated UV untuk pemakaian setelah cuci muka. Dengan berat 60 gram dan harga 2.750 yen, produk ini mengusung tekstur super ringan, manfaat serum, serta teknologi pewangi unik yang dirancang untuk menyamarkan bau keringatโsebuah nilai jual yang jarang ditemukan pada tabir surya biasa.
Sementara itu, Suntory Wellness, anak usaha Suntory Holdings yang fokus pada produk kesehatan, memilih jalur berbeda. Produk andalannya, Varon UV Air Protector yang dirilis Mei lalu, memanfaatkan ekstrak teh oolong dan teh Uji sebagai bahan aktif. Partikel tabir suryanya dilapisi bubuk kering agar tidak menimbulkan rasa lengket, sekaligus membantu melembapkan kulit kering akibat paparan sinar UV. Produk seberat 50 gram ini dijual dengan harga 3.300 yen.
Respons pasar pun positif. Seorang pramuniaga di gerai Sogo & Seibu di Yokohama mengungkapkan bahwa produk tabir surya anyar ini laris manis, terutama di kalangan pria berusia 50-an dan 60-an. Fenomena ini menunjukkan bahwa pria Jepang, terutama generasi senior, mulai serius mempertimbangkan perlindungan kulit sebagai bagian dari gaya hidup sehat.
โProduk ini laku keras, khususnya di kalangan pria berusia 50-an dan 60-an,โ ujar seorang pramuniaga di Sogo & Seibu Yokohama.
Bagi Indonesia, tren ini menghadirkan pelajaran menarik. Dengan iklim tropis dan paparan sinar matahari yang intens sepanjang tahun, kesadaran pria Indonesia terhadap perlindungan kulit masih tergolong rendah. Padahal, risiko kerusakan kulit akibat UV tidak mengenal gender. Produsen kosmetik lokal maupun pemain global yang beroperasi di Indonesia dapat meniru strategi Jepang: menciptakan produk dengan tekstur ringan, fungsi multifungsi, dan kemasan yang tidak terkesan feminin. Pendekatan semacam ini berpotensi membuka segmen pasar baru yang selama ini belum tergarap optimal.
Ke depan, pertanyaan yang menarik untuk dicermati adalah apakah tren perawatan kulit pria di Jepang akan menular ke pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Jika kesadaran akan pentingnya perlindungan UV terus tumbuh seiring meningkatnya penggunaan layar dan perubahan gaya kerja, bukan tidak mungkin industri kosmetik di kawasan ini akan mengikuti jejak inovasi serupa. Namun, tantangan utamanya tetap pada edukasi konsumen dan kemampuan produsen untuk menghadirkan produk yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan lokal.



