AI Bikin Gambar Satwa Palsu, Konservasi Terancam: 'Orang Bisa Terluka'
Baca dalam 60 detik
- Gambar-gambar satwa realistis buatan AI yang viral di media sosial dinilai mampu mengaburkan persepsi publik dan memicu interaksi berbahaya dengan hewan liar.
- Para ahli konservasi memperingatkan bahwa konten sintetis ini dapat meningkatkan eksploitasi satwa, misalnya untuk properti foto wisata atau dipelihara sebagai hewan peliharaan.
- Platform media sosial seperti Meta dan TikTok telah mewajibkan pelabelan konten AI, namun praktik di lapangan masih sering mengabaikan aturan tersebut, mengancam integritas data ilmiah.

Gambar seekor orangutan yang menggendong anak macan tutul di hutan Sabah, Malaysia, mungkin tampak mengharukan. Namun, di balik keindahan visualnya, foto hitam-putih itu adalah rekayasa kecerdasan buatan (AI) โ dan menjadi contoh nyata bagaimana konten sintetis dapat menyesatkan publik serta membahayakan upaya konservasi satwa liar.
Fenomena ini bukan kasus terisolasi. Jaringan pemeriksa fakta AFP telah membongkar puluhan visual serupa, mulai dari gajah yang memanjat pohon saat banjir di Myanmar hingga lumba-lumba merah muda yang melompat di perairan Filipina. Gambar-gambar tersebut kerap disertai narasi emosional dan menyebar luas di berbagai platform seperti Facebook, TikTok, dan X dalam banyak bahasa.
Menurut Jose Guerrero-Casado, profesor zoologi dari Universitas Cordoba, Spanyol, visual hiper-realistis yang menampilkan satwa liar berperilaku seperti hewan peliharaan atau bahkan manusia dapat mengaburkan batas antara realitas dan fiksi. "Kesalahpahaman ini bisa membuat orang mendekati hewan terlalu dekat atau berinteraksi dengan cara yang tidak aman," ujarnya. Ia mencontohkan insiden di Xinjiang, China, pada Januari lalu, ketika seorang wanita diserang macan tutul salju langka setelah mencoba mendekat untuk berfoto. Otoritas setempat pun meningkatkan patroli dan mengimbau publik menjaga jarak aman.
Chris Lewis, peneliti dari lembaga amal satwa internasional Born Free, menambahkan bahwa konten semacam ini meningkatkan permintaan terhadap spesies tertentu untuk dijadikan properti foto di industri pariwisata, dieksploitasi untuk konten media sosial, atau dipelihara sebagai hewan peliharaan. Sementara itu, Jenny Roberts dari WWF menegaskan bahwa meskipun visual AI dapat mendorong sebagian orang mendukung perlindungan hewan, "dampak negatifnya jauh lebih besar. Orang bisa terluka."
Fenomena ini juga menggerus kepercayaan publik terhadap dokumentasi satwa yang autentik. Roberts menceritakan pengalamannya ketika kamera jebakan WWF berhasil merekam seekor harimau betina dengan lima anaknya di China โ sebuah rekaman yang belum pernah ada sebelumnya. Alih-alih dikagumi, rekaman itu justru diragukan keasliannya di media sosial. "Ketika Anda memiliki sesuatu yang luar biasa, orang justru mempertanyakannya," keluhnya.
Ancaman lain yang tak kalah serius adalah pencemaran data ilmiah. Banyak peneliti mengandalkan platform sains warga (citizen science) yang menerima foto dan rekaman dari pengguna. Namun, seperti diingatkan para ahli dalam komentar terbaru di jurnal Nature, manipulasi AI dapat menghasilkan penelitian yang cacat. Mereka mendesak adanya otentikasi yang lebih ketat dan edukasi pengguna tentang risiko memanipulasi gambar serta rekaman.
Di Indonesia, di mana keanekaragaman hayati menjadi daya tarik wisata dan bahan kampanye konservasi, fenomena ini patut diwaspadai. Masyarakat yang gemar berbagi konten satwa di media sosial rentan tersesat oleh visual AI yang tampak meyakinkan. Padahal, seperti ditegaskan Guerrero-Casado, "Konservasi bergantung pada masyarakat yang memiliki pemahaman baik tentang kebutuhan ekologi dan konservasi spesies liar. Konten palsu buatan AI tidak berkontribusi pada tujuan ini."
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya bagaimana menekan produksi konten sintetis, tetapi juga bagaimana memperkuat literasi digital publik agar mampu membedakan fakta dan fiksi. Apakah platform media sosial akan benar-benar menegakkan aturan pelabelan, atau justru membiarkan algoritma terus menyebarkan ilusi yang merusak?



