Amanda Abbington Terima Kompensasi dari BBC: Akhir dari Drama 'Strictly Come Dancing'
Baca dalam 60 detik
- Aktris Amanda Abbington menerima penyelesaian di luar pengadilan dari BBC Studios setelah mengeluhkan perlakuan kasar selama mengikuti Strictly Come Dancing 2023.
- Investigasi internal BBC membebaskan Giovanni Pernice dari tuduhan paling serius, namun mengakui adanya bahasa yang merendahkan dan umpan balik yang terlalu negatif.
- Kasus ini memicu diskusi tentang budaya kerja di industri hiburan dan menjadi dorongan bagi korban perundungan untuk bersuara.

Amanda Abbington, aktris yang dikenal lewat perannya di serial Sherlock, akhirnya menutup babak kelamnya bersama BBC. Ia menerima kompensasi di luar pengadilan yang disebut "substansial" dari BBC Studios, menyusul pengaduannya atas pengalaman buruk selama mengikuti ajang dansa Strictly Come Dancing pada 2023. Penyelesaian ini sekaligus mengakhiri sengketa hukum yang sempat mengancam untuk dibawa ke meja hijau.
Kabar ini mencuat setelah The Sun on Sunday memberitakan bahwa Abbington, 53 tahun, mendapat ganti rugi lima digit plus kontribusi biaya hukum. Langkah ini diambil setelah aktris tersebut melaporkan pasangan dansanya, Giovanni Pernice, atas tuduhan "pelecehan keji" selama latihan. Tuduhan itu memicu investigasi internal BBC yang berujung pada permintaan maaf resmi kepada Abbington, meski Pernice dinyatakan bersih dari tuduhan paling serius.
Dalam laporan investigasi yang dirilis, BBC mengakui bahwa sebagian bahasa yang digunakan Pernice kepada Abbington memang "merendahkan" dan umpan baliknya "terlalu negatif" pada beberapa kesempatan. Laporan itu juga mencatat dua insiden "gurauan seksual di tempat kerja" yang dinilai hanya sebagai lelucon antara keduanya. Meski demikian, temuan ini cukup untuk membuat BBC bertanggung jawab atas lingkungan kerja yang tidak sehat bagi Abbington.
Bagi Abbington, penyelesaian ini bukan sekadar uang. Dalam pernyataannya melalui sumber dekat, ia merasa lega karena akhirnya bisa menutup babak sulit ini. "Teman dan keluarganya bersyukur karena ini sudah berakhir. Perjalanan panjang dan berat, tapi sekarang dia bisa move on," ungkap sumber tersebut. Lebih dari itu, Abbington berharap kasusnya bisa memberi kekuatan bagi orang lain yang mengalami perundungan di tempat kerja untuk berani bersuara.
Kisah Abbington tidak berhenti di situ. Ia sebelumnya mengaku merasa "lega" ketika harus keluar dari kompetisi karena menemukan benjolan di payudaranya. Dalam wawancara dengan The Sun, ia menceritakan momen dramatis saat menemukan dua benjolan di pagi hari sebelum latihan cha-cha-cha. Saat itu, ia justru mendapat komentar pedas dari Pernice yang menyebutnya "tidak berguna" dan "tidak akan bisa menguasai gerakan". Abbington pun memutuskan pergi ke rumah sakit, dan kemudian mendapat kabar bahwa benjolan itu jinak. Namun, pengalaman itu menjadi pemicu untuk akhirnya meninggalkan acara tersebut.
Kasus ini memicu perbincangan luas tentang budaya kerja di industri hiburan, terutama di balik layar acara realitas. Di Indonesia, fenomena serupa juga pernah terjadi di industri kreatif, di mana para pekerja sering kali menghadapi tekanan psikologis tanpa mekanisme perlindungan yang memadai. Meski Kementerian Ketenagakerjaan telah memiliki regulasi tentang kekerasan di tempat kerja, implementasinya di sektor informal seperti hiburan masih jauh dari harapan. Kasus Abbington bisa menjadi pelajaran penting bagi industri hiburan Tanah Air untuk lebih serius menangani isu perundungan dan kesehatan mental pekerja.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah bagaimana BBC akan memperbaiki sistem pengawasan dan dukungan bagi peserta acara mereka. Apakah kasus ini akan mendorong perubahan kebijakan yang lebih ketat, atau hanya menjadi catatan kaki dalam sejarah panjang acara tersebut? Yang jelas, langkah Abbington telah membuka pintu bagi diskusi yang lebih terbuka tentang batas antara kritik dan pelecehan di lingkungan kerja.



