Terapi Tiga Kombinasi pada Primata Berpotensi Hilangkan HIV pada Bayi Baru Lahir
Baca dalam 60 detik
- Studi pada monyet menunjukkan kombinasi ART, antibodi penetral, dan leronlimab yang diberikan segera setelah paparan mampu mencegah virus membentuk reservoir permanen.
- Temuan ini menawarkan harapan baru untuk eliminasi HIV pada bayi, meski tantangan deteksi dini dan dosis pada manusia masih harus diatasi.
- Para ahli menilai pendekatan bertarget ganda ini masuk akal secara biologis, namun tetap menyerukan kehati-hatian sebelum diterapkan pada manusia.

Sekitar 120.000 anak di dunia terdiagnosis HIV setiap tahun, sebagian besar tertular dari ibu selama kehamilan, persalinan, atau menyusui. Meski terapi antiretroviral (ART) mampu menekan virus dan mencegah perkembangan AIDS, virus tersebut tidak sepenuhnya hilang dan dapat kembali jika pengobatan dihentikan. Namun, sebuah studi terbaru pada primata menunjukkan bahwa kombinasi tiga terapi yang diberikan dalam 72 jam setelah paparan dapat mencegah virus membentuk reservoir permanen, membuka peluang baru untuk eliminasi HIV pada bayi baru lahir.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Microbiology ini melibatkan 55 monyet rhesus infant yang terpapar simian-human immunodeficiency virus (SHIV), virus yang menyebabkan penyakit mirip AIDS. Para peneliti membandingkan tujuh pendekatan pengobatan, termasuk ART, dua antibodi penetral luas (bNAbs), dan leronlimab, sebuah antibodi monoklonal eksperimental. Terapi tersebut diuji secara individual maupun kombinasi.
Hasilnya, monyet yang menerima kombinasi ketiga terapi dalam 72 jam setelah paparan menunjukkan respons luar biasa. Delapan monyet yang awalnya memiliki virus terdeteksi di darah tidak hanya berhasil ditekan virusnya, tetapi juga tidak menunjukkan rebound virus setelah ART dihentikan pada minggu ke-27. Bahkan setelah enam bulan pemantauan dan deplesi sel T CD8, virus tetap tidak terdeteksi. Pada minggu ke-84, sampel jaringan juga bersih dari SHIV.
Temuan ini menjadi angin segar di tengah upaya global mencari cara untuk benar-benar menghilangkan HIV, bukan sekadar menekannya. ART memang efektif menekan replikasi virus, tetapi tidak mampu membersihkan reservoir tersembunyi yang menjadi sumber kebangkitan virus. Kombinasi terapi yang menargetkan berbagai tahap infeksi awal ini dinilai lebih efektif mencegah pembentukan reservoir permanen.
Jagdish Khubchandani, profesor kesehatan masyarakat di New Mexico State University yang tidak terlibat dalam penelitian, menyambut positif hasil ini namun tetap "cautiously optimistic" (optimis dengan hati-hati). Menurutnya, pendekatan multipronged ini masuk akal secara biologis karena menyerang virus di berbagai tahap infeksi. Ia juga menilai penggunaan primata sebagai model penelitian memberikan keyakinan lebih karena kera memiliki kemiripan biologis dengan manusia dan telah banyak berkontribusi dalam riset HIV.
Senada, Jagmohan Batra, spesialis penyakit infeksi anak di Miller Childrenโs and Womenโs Hospital Long Beach, menyebut temuan ini "sangat penting". Ia menjelaskan bahwa terapi tunggal mungkin hanya mengontrol replikasi virus atau mengurangi reservoir, tetapi tidak menghilangkannya. Dengan menargetkan HIV melalui tiga cara berbeda, kombinasi ini berpeluang lebih besar mencegah terbentuknya reservoir permanen.
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa penerapan pada manusia masih jauh. Tantangan utama adalah identifikasi bayi yang terinfeksi HIV sejak dini, karena infeksi yang berlangsung lebih lama memungkinkan reservoir menyebar ke lebih banyak jaringan. Selain itu, dosis yang tepat, efektivitas jika dimulai setelah 72 jam, serta keamanan pada bayi baru lahir masih perlu diteliti lebih lanjut.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat angka penularan HIV dari ibu ke anak masih menjadi perhatian. Program pencegahan seperti pemberian ART pada ibu hamil dan deteksi dini pada bayi perlu diperkuat. Meski terapi kombinasi ini belum tersedia untuk manusia, hasil studi ini menegaskan pentingnya intervensi cepat setelah paparan untuk mencegah infeksi menjadi permanen.
Ke depan, pertanyaan krusial yang harus dijawab adalah apakah terapi ini dapat diadaptasi untuk manusia dan bagaimana sistem kesehatan, terutama di negara berkembang, mampu menyediakan akses cepat terhadap kombinasi terapi tersebut. Jika berhasil, ini bisa menjadi terobosan besar dalam upaya mengeliminasi HIV pada anak-anak.



