Waspada Lonjakan DBD: Pakar Peringatkan Dua Bulan Kritis di Asia Selatan
Baca dalam 60 detik
- Kasus demam berdarah di Bangladesh meningkat delapan kali lipat dalam sebulan, dengan kematian melonjak dari 1 menjadi 18.
- Profesor Kabirul Bashar memproyeksikan kasus di Dhaka akan berlipat ganda pada Juli dan meningkat tiga hingga empat kali pada Agustus.
- Sistem peringatan dini nasional dinilai mendesak untuk mengantisipasi penyebaran yang lebih luas, terutama di luar ibu kota.

Bangladesh menghadapi ancaman lonjakan signifikan kasus demam berdarah dengue (DBD) dalam dua bulan ke depan, seiring cuaca basah dan lemahnya pengendalian vektor mempercepat penyebaran wabah. Para ahli kesehatan memperingatkan bahwa situasi ini dapat mengulang tragedi 2023, ketika lebih dari 321.000 orang terinfeksi dan 1.705 meninggal dunia.
Data Kementerian Kesehatan Bangladesh menunjukkan eskalasi yang mengkhawatirkan: jumlah kematian akibat dengue melonjak dari satu kasus pada akhir Mei menjadi 18 pada akhir Juni. Dalam periode yang sama, infeksi yang dilaporkan meningkat lebih dari delapan kali lipat, dari 714 menjadi 5.924 kasus. Lonjakan ini terjadi setelah tahun 2024 mencatat 102.861 kasus dan 413 kematian, serta 101.214 infeksi dan 575 kematian pada tahun sebelumnya.
Profesor Kabirul Bashar, entomolog dari Jahangirnagar University, memperkirakan kasus dengue di Dhaka setidaknya akan berlipat ganda pada Juli dibandingkan Juni, dan meningkat tiga hingga empat kali lipat pada Agustus. Namun, ia menekankan bahwa tantangan terbesar justru berada di luar ibu kota. โSejumlah distrik berisiko mengalami peningkatan infeksi yang jauh lebih tajam,โ ujarnya, seperti dikutip Reuters.
Kondisi ini diperparah oleh wabah campak terburuk dalam beberapa dekade yang melanda Bangladesh sejak pertengahan Maret. Lebih dari 100.000 kasus suspek dan 10.000 infeksi terkonfirmasi telah dilaporkan, dengan angka kematian melampaui 700 jiwa. Beban ganda ini menekan sistem kesehatan yang sudah rapuh, terutama di daerah pedesaan dengan akses terbatas ke fasilitas medis.
Faktor lingkungan menjadi pemicu utama. Curah hujan tinggi, suhu hangat, dan kelembapan tinggi menciptakan kondisi ideal bagi perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti. Sementara itu, upaya pengendalian vektor dinilai tidak sebanding dengan ancaman yang berkembang. Bashar mendesak pemerintah untuk segera membangun sistem peringatan dini nasional guna mengidentifikasi area perkembangbiakan nyamuk dan titik panas penyebaran. โDengan sistem itu, otoritas dapat merespons lebih cepat dan memperingatkan komunitas sebelum wabah memburuk,โ katanya.
Bagi Indonesia, pengalaman Bangladesh menjadi pengingat penting. Dengan musim hujan yang masih berlangsung di beberapa wilayah, risiko lonjakan kasus dengue juga mengintai. Kegagalan dalam pengendalian vektor dan keterlambatan deteksi dini dapat menyebabkan pola serupa. Pemerintah daerah dan pusat perlu memperkuat surveilans, gerakan 3M Plus, serta kesiapan rumah sakit dalam menghadapi potensi peningkatan kasus. Pertanyaannya, apakah sistem kesehatan Indonesia cukup tangguh untuk mencegah skenario seperti yang terjadi di Bangladesh?



