Empat Tewas dalam Euforia Berlebihan Suporter Meksiko Usai Kemenangan Bersejarah
Baca dalam 60 detik
- Empat orang meninggal, tiga akibat sesak napas, saat sekitar satu juta orang memadati Paseo de la Reforma di Mexico City merayakan kemenangan Meksiko atas Ekuador di Piala Dunia 2026.
- Kerumunan massal yang tidak terkendali dipicu oleh kembang api, menyebabkan kepanikan dan orang-orang terinjak-injak, diperparah dengan konsumsi alkohol dan kurangnya pengaturan massa.
- Presiden Claudia Sheinbaum menjanjikan investigasi dan evaluasi prosedur keamanan menjelang laga 16 besar melawan Inggris, menyoroti tantangan besar dalam mengelola euforia publik di turnamen sepak bola terbesar.

Euforia kemenangan bersejarah tim nasional Meksiko atas Ekuador di Piala Dunia 2026 berujung petaka. Empat orang dilaporkan tewas dalam perayaan yang berlangsung di pusat Kota Meksiko, Selasa (30/6) malam, setelah sekitar satu juta suporter memadati Paseo de la Reforma, bulevar ikonik yang menjadi pusat tontonan bersama.
Dinas Kesehatan Mexico City mengonfirmasi tiga dari empat korban meninggal akibat asfiksia atau sesak napas. Seorang perempuan berusia 19 tahun dan seorang pria 44 tahun ditemukan tidak sadarkan diri di lokasi berbeda di sepanjang Paseo de la Reforma. Tim medis berupaya melakukan resusitasi lanjutan, namun keduanya dinyatakan meninggal di tempat. Satu jam kemudian, seorang perempuan 48 tahun yang dirawat di rumah sakit juga meninggal karena sesak napas. Korban keempat, seorang pria berusia 30-an, mengalami kejang parah dan pendarahan saluran cerna sebelum akhirnya meninggal akibat henti jantung.
Tragedi ini terjadi saat Meksiko, untuk pertama kalinya sejak 1986, menjadi tuan rumah Piala Dunia bersama Amerika Serikat dan Kanada. Gelombang euforia terus membesar seiring kemenangan beruntun tim "El Tri" di fase grup. Pada laga melawan Ekuador, lebih dari dua kilometer Paseo de la Reforma ditutup untuk kendaraan dan dipasangi layar raksasa. Pemerintah kota sebelumnya telah melarang penjualan minuman keras pada hari pertandingan dan memperbanyak titik layar serta jarak antar layar demi keselamatan. Namun, langkah itu terbukti tidak cukup.
Koran lokal El Universal melaporkan bahwa pemicu kepanikan adalah ledakan kembang api di tengah kerumunan. Orang-orang mulai berlari, saling jatuh, dan terinjak-injak. Video di media sosial memperlihatkan adegan kacau: sekelompok orang terjebak di dekat Monumen Angel, tidak bisa bergerak karena desakan massa yang terus mendorong. Klip lain merekam perkelahian antar suporter yang saling pukul dan tendang, terpeleset di atas tumpukan kaleng, botol, dan busa bir.
Patricia Garcia, seorang ibu rumah tangga 54 tahun yang ditemui Reuters, mengaku senang dengan kemenangan Meksiko, tetapi menyesalkan perayaan yang lepas kendali. "Saya tidak setuju dengan perayaan berlebihan. Kebebasan ada batasnya, dan batas itu adalah ketika kebebasan orang lain dimulai," ujarnya.
Presiden Claudia Sheinbaum menyatakan kantor jaksa agung akan menyelidiki penyebab insiden dan mengevaluasi perlunya perubahan prosedur keamanan sebelum laga 16 besar melawan Inggris pada Minggu depan. "Masyarakat perlu merayakan dengan bertanggung jawab," tegasnya dalam konferensi pers rutin.
Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pengingat akan risiko kerumunan massal dalam perayaan olahraga. Meskipun Indonesia tidak menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026, antusiasme masyarakat terhadap turnamen ini sangat tinggi, terutama dengan banyaknya pemain diaspora yang berlaga di Eropa. Pengalaman Meksiko menunjukkan bahwa euforia tanpa pengelolaan massa yang ketat dapat berujung petaka. Pertanyaannya, apakah otoritas Indonesia sudah memiliki protokol darurat untuk mengantisipasi kerumunan serupa saat nonton bareng atau perayaan kemenangan tim nasional di masa depan?



