Komika yang Dilarang Tampil di China: Panggung Diaspora Jadi Ruang Ekspresi Alternatif
Baca dalam 60 detik
- Chizi, komika yang dilarang tampil di China sejak 2023, sukses menggelar tur di Singapura, Malaysia, Taiwan, dan Jepang dengan tiket habis terjual.
- Ia sengaja membatasi materi politik dalam tur ini, namun tetap menyisipkan kritik halus seperti menyebut Xi Jinping sebagai 'suami Peng Liyuan'.
- Fenomena ini mencerminkan menyempitnya ruang kreatif di China, mendorong seniman diaspora mencari panggung baru di komunitas penutur Mandarin global.

Seorang komika yang namanya nyaris lenyap dari peredaran di China justru berhasil memenuhi ribuan kursi di auditorium National University of Singapore, pekan lalu. Di hadapan penonton yang didominasi diaspora Tionghoa, Chizi—nama panggung Wang Yuechi—melontarkan guyonan tentang masa kepemimpinan Presiden Xi Jinping yang disebutnya luar biasa panjang. Tepuk tangan dan teriakan semangat langsung membahana, sesuatu yang mustahil terjadi di panggung-panggung di daratan China.
Pria berusia 30 tahun ini sejatinya sudah dilarang tampil di China sejak 2023. Pemerintah Beijing tidak pernah mengeluarkan pernyataan resmi, namun larangan itu muncul setelah serangkaian pertunjukannya di luar negeri menyentuh isu-isu sensitif seperti sensor negara, nasionalisme daring, dan hak-hak minoritas. Kini, wajah Chizi dianggap seperti "organ seksual" oleh sistem sensor—tidak boleh ditampilkan atau disebarluaskan. Seorang penggemar bahkan kehilangan akun media sosialnya hanya karena membagikan foto Chizi.
Tur terbarunya yang dimulai April lalu justru menjadi pembuktian. Tokyo, Taipei, Kuala Lumpur, dan Singapore—semua pertunjukan ludes terjual. Dalam wawancara dengan BBC, Chizi mengakui tur ini terasa seperti "karya nyata" pertamanya setelah lebih dari sepuluh tahun berkarier. Ia menegaskan bahwa motivasinya bukan sekadar perlawanan, melainkan keinginan untuk tampil bagi penutur Mandarin dan memperkenalkan cara pandang seseorang yang tumbuh 30 tahun di China.
Yang menarik, Chizi mengaku sengaja membatasi guyonan politik dalam set terbarunya. Ia lebih banyak bercerita tentang masa kecilnya sebagai anak yang "banyak bicara" dan frustrasi dengan otoritas. Namun, ia tetap menyelipkan kritik dengan cara halus—misalnya menyebut Xi Jinping sebagai "suami Peng Liyuan", merujuk pada istri presiden yang terkenal sebagai penyanyi. Ia juga berani tampil di Taiwan, sesuatu yang belum pernah dilakukan komikus China sebelumnya. "Bahkan jika berujung perdebatan, tidak apa-apa. Kita bisa berdebat langsung," ujarnya.
Karier Chizi meroket setelah tampil di acara talk show populer yang pertama kali menampilkan stand-up comedy di televisi China. Dalam waktu singkat, ia menjadi bintang dua acara streaming dengan miliaran tayangan. Gaya khasnya adalah menyisipkan trivia dan bertingkah seperti guru yang meminta perhatian penonton. Ia juga berani menyentuh isu-isu sosial, seperti ketika ia meledek pianis Lang Lang tentang skandal taman kanak-kanak yang heboh. Namun, tekanan sensor dan keterbatasan ruang kreatif membuatnya frustrasi. "Tempat ini tidak membawa kegembiraan," tulisnya di Weibo sebelum hengkang.
Fenomena Chizi menjadi cermin bagi kondisi industri kreatif di China yang kian terbatas. Bagi Indonesia, kisah ini relevan mengingat besarnya komunitas Tionghoa perantauan dan potensi pasar hiburan berbahasa Mandarin di Asia Tenggara. Pertunjukan Chizi di Singapura dan Malaysia menunjukkan bahwa diaspora Tionghoa haus akan konten yang lebih bebas dan kritis, yang tidak bisa mereka dapatkan di platform arus utama China. Hal ini bisa menjadi peluang bagi komika atau seniman Indonesia yang ingin menjangkau audiens serupa, dengan catatan tetap memperhatikan sensitivitas politik bilateral.
Ke depan, Chizi berencana memperluas tur ke Australia, Selandia Baru, dan Amerika Utara. Ia mengaku tidak tahu berapa lama akan bertahan, tetapi untuk saat ini ia menikmati momen di atas panggung. "Biasanya Anda berteman satu per satu, tetapi di panggung saya merasa membuat 500 teman sekaligus," katanya. Pertanyaannya, apakah model panggung diaspora seperti ini akan menjadi tren baru bagi seniman yang terusir dari sistem sensor China, atau hanya sekadar episode sesaat?



