Meninggal Dunia di Usia 70, Toko Buku Hong Kong yang Melawan Beijing Tutup Usia
Baca dalam 60 detik
- Lam Wing-kee, pemilik toko buku Causeway Bay Books yang kritis terhadap elite China, meninggal akibat kanker paru-paru di Taipei.
- Penangkapan dan pengasingannya ke Taiwan pada 2019 memicu kekhawatiran global tentang menyusutnya kebebasan di Hong Kong.
- Kematian Lam menjadi pengingat akan tekanan terhadap kebebasan berekspresi di kawasan yang berpotensi berdampak pada diaspora Tionghoa di Indonesia.

Lam Wing-kee, pemilik toko buku Hong Kong yang dikenal vokal mengkritik elite politik China, meninggal dunia pada Kamis (20/4) di Rumah Sakit Mackay Memorial, Taipei, dalam usia 70 tahun akibat kanker paru-paru. Kepergiannya menutup babak panjang perlawanan seorang individu terhadap tekanan otoriter, sekaligus menyoroti nasib kebebasan sipil di Hong Kong pasca-1997.
Lam adalah salah satu dari sejumlah pemilik dan staf toko buku yang hilang pada 2015 setelah menjual publikasi yang dianggap tidak loyal terhadap kepemimpinan Beijing. Ia ditahan selama lebih dari 400 hari saat berkunjung ke daratan China, dan kemudian mengaku bahwa pengakuan yang disiarkan televisi China hanyalah skenario yang dipaksakan. Kasusnya menjadi simbol ketakutan akan intervensi Beijing yang semakin dalam terhadap Hong Kong, yang memicu gelombang protes besar pada 2019.
Pada 2019, Lam melarikan diri ke Taiwanโyang oleh Beijing dianggap sebagai provinsi yang harus bersatu kembaliโkarena khawatir akan diekstradisi ke China berdasarkan rancangan undang-undang ekstradisi Hong Kong. Pemerintah Taiwan saat itu menyambut pembukaan kembali tokonya, Causeway Bay Books, sebagai simbol demokrasi dan kebebasan di pulau tersebut. Presiden Taiwan Lai Ching-te dalam unggahan Facebook menyatakan "sangat berduka" atas kematian Lam, dan menyebut hidupnya sebagai saksi nilai kebebasan berekspresi serta penderitaan akibat represi otoriter.
Bagi Indonesia, kisah Lam relevan dalam konteks pengawasan terhadap kebebasan berekspresi dan potensi tekanan terhadap diaspora Tionghoa. Meskipun Indonesia memiliki sejarah berbeda, kasus ini mengingatkan bahwa ketegangan geopolitik antara China dan Taiwan dapat berdampak pada komunitas Tionghoa di Asia Tenggara. Pemerintah Indonesia perlu menjaga keseimbangan antara hubungan ekonomi dengan China dan perlindungan hak warga negara.
Dalam wawancara terakhirnya dengan BBC tahun lalu, Lam menyatakan, "Setiap orang memiliki nilai masing-masing. Anda tidak bisa melawan nilai Anda, juga tidak bisa mengkhianati orang lain. Jika Anda percaya sesuatu itu benar, Anda harus terus memegangnya." Pernyataan itu mencerminkan keyakinannya yang tak tergoyahkan, meskipun harus menghadapi tekanan besar.
Kematian Lam meninggalkan pertanyaan: akankah kasusnya menjadi katalis bagi perubahan kebijakan di Hong Kong, atau justru semakin memperkuat cengkeraman Beijing? Yang jelas, perjuangan Lam telah meninggalkan jejak yang tak terhapuskan dalam sejarah perjuangan kebebasan di kawasan itu.



