Ancaman Erupsi Eksplosif Merapi: BPPTKG Perpanjang Larangan Pendakian
Baca dalam 60 detik
- BPPTKG menegaskan larangan pendakian Gunung Merapi karena potensi erupsi eksplosif yang dapat melontarkan material vulkanik hingga radius 3 km dari puncak.
- Fase erupsi efusif saat ini justru meningkatkan risiko sumbatan magma yang memicu tekanan gas, sehingga erupsi mendadak tetap mengancam.
- Jalur pendakian New Selo berada dalam zona bahaya, dengan titik-titik seperti Pos I dan Pasar Bubrah berjarak kurang dari 3 km dari puncak.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) kembali memperingatkan masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas pendakian di Gunung Merapi. Ancaman erupsi eksplosif yang dapat terjadi sewaktu-waktu menjadi alasan utama di balik larangan ini, mengingat material vulkanik berpotensi menjangkau radius hingga tiga kilometer dari puncak.
Kepala BPPTKG, Agus Budi, menegaskan bahwa keselamatan pendaki harus menjadi prioritas utama. Menurutnya, meskipun Merapi saat ini berada dalam fase erupsi efusif—ditandai dengan keluarnya magma secara perlahan—kondisi tersebut tidak lantas menghilangkan risiko. "Justru dalam kondisi inilah potensi erupsi eksplosif tetap tinggi," ujarnya, Rabu (1/7). Ia menjelaskan bahwa sumbatan pada jalur keluarnya magma dapat menyebabkan akumulasi tekanan gas yang kuat, yang pada akhirnya melepaskan energi secara mendadak.
Data historis menunjukkan bahwa dalam tiga abad terakhir, Merapi memiliki lima tipe erupsi, dengan erupsi eksplosif sebagai yang paling sering terjadi. Sejak erupsi besar 2010, tercatat 32 kali erupsi eksplosif, mayoritas bersifat freatik. Hal ini mendasari keputusan BPPTKG untuk mempertahankan status Siaga (Level III) dan menutup akses pendakian sejak 22 Mei 2018.
Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), Heri Wibowo, menambahkan bahwa penutupan jalur pendakian merupakan respons terhadap konten viral di media sosial yang mengajak masyarakat mendaki. Ia menegaskan bahwa kegiatan pendakian hanya diperbolehkan untuk kepentingan penelitian dan mitigasi bencana. "Kegiatan pendakian untuk sementara tidak direkomendasikan," kata Heri dalam keterangan resminya, Senin (29/6).
Berdasarkan laporan BPPTKG periode 19-25 Juni 2026, suplai magma ke permukaan masih berlangsung, sehingga guguran lava dan awan panas dapat terjadi sewaktu-waktu. Potensi bahaya terkonsentrasi di sektor selatan-barat daya, meliputi alur Sungai Boyong (maksimal 5 km), serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng (maksimal 7 km). Di sektor tenggara, Sungai Woro dan Gendol masing-masing memiliki jarak luncur maksimal 3 km dan 5 km.
Jalur pendakian melalui New Selo menjadi sorotan karena seluruh titiknya berada dalam radius bahaya. Pintu gerbang hingga Pos I berjarak sekitar 2,3 km dari puncak, Pos II 1,64 km, dan Pasar Bubrah hanya 0,7 km. Dengan demikian, aktivitas pendakian di zona tersebut sangat membahayakan keselamatan. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah kesadaran publik akan risiko ini cukup kuat untuk mencegah pelanggaran larangan, atau diperlukan sanksi yang lebih tegas?



