Gempa M 7,7 NTT: 31 Susulan Guncang Nagekeo, 38 Tewas dan Peringatan Tsunami Dicabut
Baca dalam 60 detik
- BNPB mencatat 31 gempa susulan pasca gempa utama M 7,7 di Nagekeo, dengan empat di antaranya berkekuatan signifikan hingga M 6,2.
- Dampak terbaru menunjukkan 38 orang meninggal dunia, sementara dua lainnya luka berat dan sebelas mengalami luka ringan.
- Peringatan dini tsunami yang sempat dikeluarkan BMKG telah berakhir, namun masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi gempa susulan.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, mengonfirmasi bahwa hingga Sabtu pukul 15.00 WIB, telah terjadi 31 kali gempa susulan di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyusul gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah tersebut pada dini hari. Dari total susulan tersebut, empat di antaranya memiliki magnitudo cukup besar dan berpotensi menimbulkan kerusakan tambahan.
Dalam konferensi pers daring yang digelar Sabtu, Suharyanto merinci bahwa gempa susulan terbesar tercatat mencapai magnitudo 6,2 yang terjadi pada pukul 05.13 WIB dengan kedalaman 10 kilometer di bawah laut. Susulan signifikan lainnya meliputi gempa magnitudo 5,5 pada pukul 05.13 lewat 53 detik, kemudian magnitudo 6,2 kembali terjadi pada pukul 05.28, dan disusul magnitudo 5,6 pada pukul 05.37. Seluruh gempa susulan tersebut berpusat di laut dengan kedalaman dangkal, yang menurut para ahli dapat memicu kerusakan lebih parah di permukaan.
Menariknya, aktivitas seismik besar hanya terjadi pada rentang pagi hari. Suharyanto menegaskan bahwa sejak pukul 07.00 WIB, tidak ada lagi gempa susulan dengan magnitudo besar yang tercatat. Hal ini memberikan sedikit kelonggaran bagi tim evakuasi dan warga yang masih dalam masa tanggap darurat, meski kewaspadaan tetap diperlukan mengingat potensi gempa susulan kecil yang masih bisa terjadi.
Gempa utama yang mengguncang Nagekeo pada pukul 04.58 WIB sempat memicu peringatan dini tsunami dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Peringatan tersebut akhirnya dicabut pada pukul 07.30 WIB setelah status dinilai aman. Namun, dampak dari gempa utama dan susulannya telah menelan korban jiwa yang cukup signifikan. Data terbaru hingga Sabtu sore mencatat 38 orang meninggal dunia, dua orang luka berat, dan sebelas lainnya mengalami luka ringan.
Bagi masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di wilayah rawan gempa seperti NTT, kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana. BMKG sebelumnya telah menjelaskan bahwa gempa ini disebabkan oleh aktivitas sesar naik busur belakang Flores, sebuah mekanisme yang kerap memicu gempa dangkal dengan potensi tsunami. Oleh karena itu, pemahaman tentang jalur evakuasi dan prosedur keselamatan menjadi krusial, bukan hanya bagi warga NTT tetapi juga daerah lain yang berada di zona seismik aktif.
Para ahli memperkirakan bahwa aktivitas susulan masih mungkin terjadi dalam beberapa hari ke depan, meski dengan magnitudo yang cenderung mengecil. BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, menjauhi pantai jika terjadi gempa besar, dan tidak mudah percaya pada informasi yang tidak jelas sumbernya. Koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, dan lembaga terkait terus dilakukan untuk mempercepat penanganan korban dan pemulihan infrastruktur.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah seberapa cepat proses rehabilitasi dapat berjalan, mengingat kondisi geografis NTT yang berbukit dan aksesibilitas yang terbatas. Akankah pemerintah mampu membangun kembali infrastruktur yang rusak dan memulihkan kehidupan masyarakat sebelum ancaman gempa berikutnya datang? Hanya waktu yang akan menjawab, namun yang jelas, kewaspadaan dan kesiapsiagaan adalah kunci untuk mengurangi risiko di masa depan.



