Ascott: Dari Singapura ke Dunia, Mengubah Hotel Menjadi Rumah Kedua
Baca dalam 60 detik
- Ascott, pionir serviced residence dari Singapura, kini mengelola lebih dari 1.000 properti di 40 negara, dengan model bisnis aset-ringan.
- Perusahaan mengandalkan fleksibilitas dan koneksi lokal sebagai pembeda, bukan sekadar kemewahan fisik, untuk menarik wisatawan modern.
- Dengan fokus pada Asia-Pasifik, Ascott mempercepat ekspansi di Vietnam dan memanfaatkan Singapura sebagai laboratorium inovasi.

Ketika batas antara hotel, apartemen, dan ruang kerja semakin kabur, Ascott, perusahaan perhotelan asal Singapura, berdiri di garda terdepan dengan lebih dari 1.000 properti di 230 kota di 40 negara. Didirikan pada 1984, Ascott tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dengan mengusung konsep "rumah kedua" bagi para pelancong, sebuah pendekatan yang kini menjadi kebutuhan, bukan sekadar tren.
Di tengah dominasi raksasa seperti Accor, Hilton, dan Marriott yang mengandalkan hotel tradisional, Ascott memilih jalur berbeda sejak awal: fokus pada serviced residence yang menggabungkan kenyamanan rumah dengan fleksibilitas tinggal jangka pendek maupun panjang. CEO Kevin Goh menegaskan bahwa perusahaan tidak pernah berniat menjadi pionir, melainkan hanya mendengarkan kebutuhan tamu. "Orang yang jauh dari rumah menginginkan lebih dari sekadar kamar; mereka butuh ruang yang mengikuti ritme hidup mereka," ujarnya, merujuk pada kebutuhan yang sudah ada sejak 1984 dan semakin meluas di era kerja jarak jauh.
Pergeseran perilaku wisatawan, dari sekadar menginap menjadi benar-benar "tinggal", telah mengubah cara industri perhotelan memandang layanan. Dapur kecil, mesin cuci, dan meja kerja yang layak kini menjadi fitur standar, bukan kemewahan tambahan. Ascott menangkap perubahan ini dengan model operasional "flex-hybrid" yang memungkinkan properti beradaptasi dengan cepat, seperti saat pandemi ketika perusahaan mengalihkan fokus ke hunian jangka panjang dan fasilitas karantina, mempertahankan okupansi sekitar 50 persen di tengah krisis.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat industri perhotelan nasional juga bergulat dengan perubahan preferensi wisatawan, terutama generasi muda yang mengutamakan pengalaman otentik dan koneksi lokal. Model Ascott yang mengedepankan integrasi dengan lingkungan sekitar—seperti kafe, pasar, dan toko buku independen—bisa menjadi inspirasi bagi pelaku industri di dalam negeri untuk menciptakan nilai lebih dari sekadar akomodasi.
Ascott juga memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan personalisasi layanan. Investasi dalam kecerdasan buatan dan agen komersial bertujuan membuat rekomendasi terasa lebih personal, seperti dipilihkan khusus untuk setiap anggota. Hal ini sejalan dengan meningkatnya harapan wisatawan akan pengalaman yang disesuaikan dengan preferensi individu, bukan sekadar paket standar.
Singapura, sebagai pasar domestik yang kecil, justru menjadi keunggulan kompetitif. Kota ini menawarkan basis tamu yang beragam dan selektif, menjadikannya tempat uji coba yang ideal sebelum konsep dibawa ke pasar global. Pembukaan Oakwood Premier Raffles Place, Lyf Chinatown, dan Somerset Clarke Quay yang akan datang menunjukkan komitmen Ascott untuk terus berinovasi dari akar rumput.
Ke depan, Ascott melihat Asia-Pasifik sebagai pusat pertumbuhan, dengan Vietnam sebagai sorotan utama. Negara ini tidak hanya menarik wisatawan liburan, tetapi juga pelancong bisnis, wisata kesehatan, dan MICE. Dengan pengalaman lebih dari tiga dekade, Ascott membangun di atas kurva permintaan, menandatangani delapan properti baru dalam sebulan dan memperluas portofolio hingga 40 properti. Pertanyaannya, apakah pelaku industri di Indonesia siap menangkap peluang serupa di tengah persaingan yang semakin ketat?



