Gempa Flores 7,7 SR: 47 Tewas, Ribuan Bangunan Rusak, Tim SAR Berjibaku di Tengah Ancaman Susulan
Baca dalam 60 detik
- Gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores pada Sabtu dini hari telah menewaskan sedikitnya 47 orang dan merusak ratusan bangunan, dengan wilayah Manggarai Timur mencatat korban terbanyak.
- BNPB mengerahkan bantuan awal 10.500 paket logistik, sementara tim penyelamat masih berjuang menjangkau daerah terpencil yang terisolasi akibat tanah longsor.
- Peringatan tsunami sempat memicu evakuasi 2.000 warga, namun dicabut setelah tiga jam; fokus kini beralih pada percepatan evakuasi korban dan pemulihan infrastruktur vital.

Sedikitnya 47 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (14/12) dini hari. Guncangan keras yang berlangsung sekitar pukul 05.00 WITA itu tidak hanya meratakan ratusan rumah, tetapi juga memicu tanah longsor yang memutus akses ke sejumlah desa, menyulitkan upaya evakuasi dan pencarian korban.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat episentrum gempa berada di kedalaman 15 kilometer, menjadikannya gempa dangkal yang getarannya terasa hingga ke Bima, Sumbawa. Data sementara dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan Manggarai Timur menjadi wilayah dengan korban jiwa terbanyak, yakni 24 orang, disusul Manggarai Timur dengan 17 kematian. Sementara itu, tiga orang dilaporkan tewas di Sikka, dan masing-masing satu korban jiwa tercatat di Ngada, Ende, dan Manggarai Barat. Dua orang mengalami luka berat dan sebelas lainnya luka ringan.
Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, mengungkapkan bahwa sebagian besar korban meninggal tertimpa reruntuhan bangunan saat masih tertidur. โMereka tidak sempat menyelamatkan diri karena gempa terjadi sangat cepat dan keras,โ ujarnya dalam konferensi pers. Salah satu warga Talibura, Arnold Welianto, menuturkan bahwa ia terbangun dari tidurnya dan langsung berlari ke kamar anaknya. โSaya kaget dan langsung memeriksa anak saya,โ katanya. Banyak warga lainnya telah mengungsi ke perbukitan setelah air laut terlihat surut, sebuah fenomena yang kerap dikaitkan dengan potensi tsunami.
Peringatan tsunami memang sempat dikeluarkan dan memicu evakuasi sekitar 2.000 orang, namun dicabut tiga jam kemudian setelah tidak terdeteksi kenaikan muka air laut yang signifikan. Meski demikian, dampak gempa tetap meluas. Data awal BNPB mencatat lebih dari 150 rumah rusak berat, puluhan sekolah, fasilitas kesehatan, tempat ibadah, dan perkantoran ikut rusak. Di Pelabuhan Maumere, kota terbesar di Flores, rekaman video memperlihatkan beton terminal yang runtuh menimpa calon penumpang kapal feri, bahkan beberapa orang terlempar ke laut saat jembatan penghubung kapal ambruk.
Tim penyelamat gabungan dari BNPB, TNI, Polri, dan relawan masih berjuang menjangkau daerah-daerah terisolasi. Tanah longsor yang dipicu gempa menutup sejumlah akses jalan, sehingga evakuasi korban yang tertimbun reruntuhan berjalan lambat. Di Ruteng, petugas medis mendirikan tenda darurat di luar rumah sakit untuk menangani korban luka. BNPB mengimbau warga untuk tetap tenang, menjauhi pantai, dan tidak memasuki bangunan yang menunjukkan keretakan karena masih ada risiko gempa susulan.
Indonesia memang berada di kawasan Cincin Api Pasifik, pertemuan tiga lempeng tektonik besar, sehingga gempa bumi dan letusan gunung berapi adalah ancaman yang akrab. Namun, setiap bencana selalu mengingatkan bahwa kesiapsiagaan dan infrastruktur tahan gempa masih menjadi pekerjaan rumah besar. Gempa susulan berkekuatan 6,9 yang mengguncang wilayah lain di Indonesia pada hari yang sama menjadi pengingat lain bahwa negeri ini hidup di atas โbubuk mesiuโ geologis.
Ke depan, pertanyaan besarnya bukan hanya berapa jumlah korban yang akan terus bertambah, tetapi juga bagaimana pemerintah pusat dan daerah mempercepat pemulihan layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan di daerah terpencil. Akankah tragedi ini mendorong percepatan pembangunan infrastruktur tahan gempa di Nusa Tenggara Timur? Atau akankah kembali menjadi catatan yang terlupakan ketika duka mereda?



