Kisah Fikri, Bocah Pemulung yang Kini Berseragam Bersih di Sekolah Rakyat, Mewarnai HUT Bhayangkara ke-80
Baca dalam 60 detik
- Menteri Sosial Gus Ipul mengapresiasi Polri atas kontribusinya dalam program Sekolah Rakyat saat peringatan HUT Bhayangkara ke-80 di Cikeas, Bogor.
- Video tentang M. Fikri Ibrahim, siswa Sekolah Rakyat asal Sumedang yang dulunya pemulung, diputar dalam acara tersebut sebagai simbol keberhasilan program.
- Presiden Prabowo menegaskan kemiskinan akibat korupsi dan ilegalitas, serta menekankan penegakan hukum tanpa pandang bulu untuk melindungi rakyat lemah.

Seorang bocah berusia enam tahun yang sebelumnya harus mengais sampah untuk bertahan hidup kini duduk di bangku Sekolah Rakyat dengan seragam bersih—kisahnya menjadi sorotan dalam peringatan Hari Bhayangkara ke-80 yang digelar di Lapangan Nagara Janottama, Cikeas, Bogor, Rabu (1/7). Menteri Sosial Saifullah Yusuf, akrab disapa Gus Ipul, menyampaikan apresiasi kepada Polri yang dinilai berperan aktif dalam mendukung program pemerintah, termasuk penguatan kedisiplinan siswa Sekolah Rakyat.
Acara bertema "80 Tahun Mengabdi, Polri untuk Masyarakat" ini dihadiri Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Rangkaian upacara diawali parade tujuh resimen yang meneriakkan yel-yel, diikuti lomba antarsatuan kepolisian daerah untuk memperkuat kekompakan. Namun, momen yang paling menyita perhatian adalah pemutaran video tentang M. Fikri Ibrahim, siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 4 Sumedang.
Video tersebut menggambarkan perjalanan hidup Fikri yang sebelumnya harus memulung botol bekas di jalanan untuk menyambung hidup, sementara anak-anak lain bermain. Kisahnya sempat viral beberapa waktu lalu. Setelah masuk Sekolah Rakyat, Fikri kini mengenakan seragam bersih, mendapatkan makanan bergizi, dan belajar di lingkungan yang lebih baik dengan pendampingan guru. Ia menjadi simbol nyata bahwa program Sekolah Rakyat gagasan Presiden Prabowo mampu mengubah nasib anak-anak dari keluarga miskin.
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menyoroti kemiskinan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Ia menegaskan bahwa kemiskinan adalah akibat langsung dari korupsi, penyelundupan, dan kegiatan ekonomi ilegal. "Hukum harus ditegakkan dalam penyimpangan-penyimpangan tersebut, tidak ada pandang bulu," ujarnya. Prabowo juga menekankan bahwa tidak boleh ada penyalahgunaan wewenang dan siapa pun tidak boleh kebal terhadap hukum. "Rakyat paling lemah harus mendapat perlindungan, masyarakat yang mencari kebenaran dan keadilan harus dilayani," tegasnya.
Kisah Fikri menjadi pengingat bahwa masih banyak anak Indonesia yang membutuhkan akses pendidikan layak. Program Sekolah Rakyat yang mengintegrasikan pendidikan formal dengan pendampingan sosial diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang. Kehadiran Polri dalam program ini juga menunjukkan sinergi lintas sektor yang diperlukan untuk mengentaskan kemiskinan. Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: apakah program ini dapat diperluas dan berkelanjutan di tengah tantangan anggaran dan birokrasi?



