Jenazah Pemimpin Tertinggi Iran Tiba di Teheran, Persiapan Pemakaman Raksasa Dimatangkan
Baca dalam 60 detik
- Ali Khamenei tewas dalam serangan AS-Israel, memicu perang Timur Tengah dan gencatan senjata rapuh.
- Pemakaman diperkirakan dihadiri 15-20 juta pelayat, terbesar dalam sejarah Iran, dengan penutupan wilayah udara.
- Ketidakhadiran putra dan penerusnya, Mojtaba Khamenei, memicu spekulasi tentang transisi kepemimpinan.

Jenazah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Februari lalu, tiba di Kompleks Grand Mosalla, Teheran, Jumat (3/7). Kedatangan ini menjadi awal rangkaian pemakaman kenegaraan yang diprediksi menjadi yang terbesar dalam sejarah Republik Islam Iran, dengan jutaan pelayat dari dalam dan luar negeri diperkirakan hadir.
Khamenei, 86 tahun, gugur bersama sejumlah anggota keluarganya ketika rudal menghantam kompleks kediamannya di pusat kota Teheran. Peristiwa itu langsung memicu eskalasi perang Timur Tengah yang berlangsung hingga awal Juli, sebelum Iran dan AS menandatangani kesepakatan awal gencatan senjata. Kini, di tengah gencatan yang rapuh, Teheran menggelar upacara pemakaman yang sarat muatan politik dan religius.
Ribuan petugas keamanan dan sukarelawan telah menyiapkan Grand Mosalla, tempat ibadah terbesar di Iran, yang dihiasi spanduk bergambar dan kutipan Khamenei. Pekerja seperti Hossein Moghadassi, yang menutupi wajahnya dari terik matahari, mengatakan mereka menanam bunga dan menyiram semak-semak untuk perpisahan "pemimpin syahid" mereka. "Orang-orang akan datang dari seluruh Iran. Akan ada kerumunan besar," ujarnya.
Mohammad Bagher Ghalibaf, ketua perunding Teheran sekaligus juru bicara parlemen, menyerukan partisipasi massal. "Seruan bangsa untuk balas dendam harus bergema di telinga seluruh dunia," katanya dalam pernyataan, Kamis (2/7). Ia menyebut momen ini sebagai salah satu yang paling signifikan dalam sejarah Iran. Pemerintah setempat memperkirakan antara 15 hingga 20 juta pelayat akan hadir, menjadikannya pemakaman negara terbesar yang pernah ada.
Jenazah Khamenei akan disemayamkan selama tiga hari di Grand Mosalla, sebelum dibawa ke kota suci Najaf dan Karbala di Irak, dan akhirnya dimakamkan pada 9 Juli di Makam Imam Reza di Mashhad, kota kelahirannya. Pemerintah Iran menetapkan hari libur nasional di Teheran, Qom, dan Mashhad selama acara berlangsung. Wilayah udara Teheran ditutup sebagian mulai Jumat dan sepenuhnya pada Senin (6/7).
Kehadiran para pemimpin asing menjadi sorotan. Pakistan, yang berperan sebagai mediator utama dalam perundingan AS-Iran, mengonfirmasi Perdana Menteri Shehbaz Sharif akan hadir. China, Afghanistan, dan negara-negara tetangga di Kaukasus juga mengirimkan utusan. Namun, ketidakhadiran putra Khamenei, Mojtaba Khameneiโyang ditunjuk sebagai penerusโmenimbulkan pertanyaan. Sejak menjadi pemimpin tertinggi, Mojtaba belum tampil di publik, dan tidak jelas apakah ia akan hadir dalam upacara utama di Teheran.
Bagi Indonesia, peristiwa ini memiliki implikasi geopolitik yang signifikan. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, Indonesia selama ini menjalin hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Iran, terutama di sektor energi. Ketidakstabilan di Timur Tengah akibat suksesi kepemimpinan Iran berpotensi mempengaruhi harga minyak global dan pasokan energi ke Indonesia. Selain itu, peran Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB dapat menjadi krusial dalam mendorong dialog pasca-konflik. Masyarakat Indonesia juga perlu mencermati bagaimana transisi kekuasaan di Iran akan mempengaruhi dinamika politik di kawasan, termasuk hubungan dengan Arab Saudi dan negara Teluk lainnya.
Pemakaman Khamenei bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan panggung politik untuk menunjukkan kekuatan dan persatuan di tengah tekanan internasional. Dengan jutaan orang turun ke jalan, Teheran mengirimkan pesan bahwa meskipun pemimpin mereka gugur, rezim tetap kokoh. Namun, absennya Mojtaba dan ketidakjelasan proses suksesi menyisakan tanda tanya besar: akankah Iran mampu mempertahankan stabilitas di bawah kepemimpinan baru, atau justru memasuki babak baru ketidakpastian?



