Putin Abaikan Krisis BBM di Rusia, Serangan Balik Ukraina Makin Intensif
Baca dalam 60 detik
- Serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia telah memangkas sepertiga kapasitas produksi, memicu antrean panjang dan penjatahan BBM di berbagai wilayah.
- Presiden Putin meremehkan dampak krisis energi dan menolak gencatan senjata, dengan syarat Ukraina mundur dari Donetsk dan membatalkan rencana bergabung dengan NATO.
- Krisis ini mengancam stabilitas ekonomi Rusia dan dapat mempengaruhi harga energi global, termasuk pasokan ke Indonesia.

Di tengah serangan Ukraina yang terus menghantam infrastruktur energi Rusia, Presiden Vladimir Putin tetap bersikukuh melanjutkan perang dan meremehkan krisis bahan bakar yang meluas di negaranya. Dengan lebih dari 50 serangan terhadap kilang minyak dan fasilitas energi sejak Maret, sekitar sepertiga kapasitas penyulingan Rusia lumpuh, memicu kelangkaan BBM dan antrean panjang di pompa bensin.
Putin, dalam pernyataan yang disiarkan televisi, mengakui Rusia sedang melalui "masa sulit" tetapi menyebut kekurangan BBM sebagai "tidak kritis" dan bersifat sementara. Ia berjanji mempercepat perbaikan fasilitas energi dan mempertimbangkan impor bensin. Namun, para analis menilai serangan Ukraina telah menimbulkan kerusakan permanen yang mahal untuk diperbaiki. Chris Weafer, CEO konsultan Macro-Advisory, memperkirakan kapasitas penyulingan Rusia turun drastis, dengan produksi bensin berkurang 17% menjadi 850.000 barel per hari.
Krisis ini paling terasa di Krimea, wilayah yang dianeksasi Rusia pada 2014, di mana penjualan bensin ke individu dihentikan secara berkala. Di berbagai daerah lain, pemerintah memberlakukan penjatahan dan mengizinkan produksi bensin berkualitas rendah dengan kadar sulfur tinggi untuk menutupi defisit. Kondisi ini memecah narasi Putin bahwa perang tidak mempengaruhi kehidupan warga biasa.
Sementara itu, militer Rusia melancarkan serangan besar-besaran ke Kyiv selama 11 jam pada Kamis lalu, menewaskan sedikitnya 30 orang. Putin mengklaim serangan itu menyasar target militer, namun fakta di lapangan menunjukkan kawasan pemukiman ikut menjadi sasaran. Sebaliknya, sebagian besar serangan Ukraina di Rusia menyasar kilang minyak, pabrik senjata, dan instalasi militer.
Putin juga menolak proposal gencatan senjata dari Ukraina dan sekutu Barat. Ia mensyaratkan Ukraina mundur dari wilayah Donetsk yang masih dikuasai, membatalkan rencana bergabung dengan NATO, serta mengurangi jumlah tentara. Tuntutan ini ditolak mentah-mentah oleh Presiden Volodymyr Zelenskyy. Putin bahkan menantang Zelenskyy datang ke Moskow untuk bernegosiasi, sebuah langkah yang dinilai tidak realistis.
Dalam wawancara akhir pekan lalu, Putin mengklaim Ukraina menawarkan untuk membatasi pertempuran di empat wilayah yang dianeksasi Rusia: Donetsk, Luhansk, Kherson, dan Zaporizhzhia. Namun, ia menolak tawaran itu karena dianggap akan membebaskan pasukan Ukraina untuk berkonsentrasi di wilayah lain. Kremlin menyatakan tawaran disampaikan melalui saluran rahasia, namun pejabat Ukraina tidak mengonfirmasi hal tersebut.
Bagi Indonesia, eskalasi perang ini berimplikasi langsung pada stabilitas harga energi global. Rusia adalah salah satu produsen minyak terbesar dunia, dan gangguan pasokan dapat mendorong kenaikan harga BBM di dalam negeri. Pemerintah Indonesia perlu mencermati perkembangan ini untuk mengantisipasi tekanan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah seberapa lama Putin dapat mempertahankan legitimasi di tengah krisis energi yang meluas. Jika kelangkaan BBM terus berlanjut, tekanan domestik bisa menggerus dukungan terhadap perang. Namun, dengan kontrol ketat terhadap informasi dan represi politik, rezim Putin mungkin masih mampu bertahan. Dunia menanti langkah selanjutnya dalam konflik yang tak kunjung reda ini.



