Meta Garap Bisnis Cloud untuk Jual Kapasitas AI Berlebih, Pasar Neocloud Tertekan
Baca dalam 60 detik
- Meta Platforms tengah mengembangkan layanan cloud untuk menyewakan kelebihan kapasitas komputasi AI, mengikuti jejak SpaceX yang sudah lebih dulu melakukannya.
- Langkah ini memicu kekhawatiran di kalangan penyedia neocloud seperti CoreWeave dan Nebius yang selama ini bergantung pada Meta sebagai pelanggan utama.
- Dengan masuk ke bisnis cloud, Meta berpotensi mengurangi ketergantungan pada iklan dan bersaing langsung dengan AWS, Azure, dan Google Cloud.

Meta Platforms, induk usaha Facebook dan Instagram, mulai membangun lini bisnis cloud yang akan menjual kelebihan kapasitas komputasi kecerdasan buatan (AI) kepada pengembang eksternal. Langkah ini diambil di tengah tekanan investor terhadap belanja modal besar-besaran perusahaan teknologi di bidang AI, yang tahun ini diperkirakan mencapai 145 miliar dolar AS untuk Meta sendiri.
Menurut laporan Bloomberg News yang mengutip sumber internal, rencana tersebut masih dalam tahap awal dan bisa berubah. Namun, kabar ini sudah cukup mendongkrak harga saham Meta lebih dari 10 persen, menghentikan tren penurunan yang membuat sahamnya terpuruk hampir 15 persen sejak awal tahun. Sebaliknya, saham perusahaan neocloud seperti CoreWeave dan Nebius justru ambles masing-masing 10,8 persen dan 12,4 persen, karena investor khawatir Meta akan mengurangi atau bahkan menghentikan penggunaan jasa mereka.
Jika terealisasi, Meta akan bersaing langsung dengan raksasa cloud Amazon Web Services (AWS), Microsoft Azure, dan Google Cloud. Namun, analis menilai dampak terbesar justru akan dirasakan oleh penyedia neocloud yang selama ini bergantung pada Meta sebagai pelanggan utama. “Penambahan kapasitas Meta ke pasar lebih mungkin memukul neocloud daripada hyperscaler besar. Perusahaan seperti CoreWeave dan Nebius mengandalkan Meta untuk pertumbuhan mereka, dan Meta mungkin tidak lagi membutuhkan mereka,” ujar Gil Luria, Managing Director D.A. Davidson.
Layanan cloud yang dirancang Meta akan memungkinkan pengembang mengakses model AI yang dihosting di infrastruktur Meta, termasuk Muse Spark—model AI pertama dari tim khusus yang dibentuk tahun lalu. Muse Spark sendiri belum dirilis ke publik dan belum memiliki jadwal peluncuran pasti, seperti dilaporkan Wall Street Journal. Model ini akan bersaing dengan layanan Bedrock milik AWS yang menyediakan akses ke berbagai model AI dari perusahaan lain.
Selain menyewakan akses model AI, Meta juga disebut tengah mempertimbangkan untuk menjual kapasitas komputasi AI mentah, mirip dengan model bisnis neocloud. Langkah ini mengingatkan pada situasi yang dialami SpaceX, yang akhirnya menjual kapasitas komputasi pusat datanya di Memphis ke Anthropic dan Google. “Ini sangat mirip dengan situasi SpaceX,” tambah Luria.
Bagi Indonesia, langkah Meta ini membuka peluang baru bagi startup dan perusahaan lokal yang membutuhkan infrastruktur AI tanpa harus membangun sendiri. Namun, juga berarti persaingan di pasar cloud Indonesia—yang saat ini didominasi AWS, Azure, dan Google Cloud—akan semakin ketat. Kehadiran Meta bisa menekan harga dan memperluas akses, tetapi juga berpotensi menggeser pemain lokal yang masih mengandalkan neocloud global.
Dalam rapat pemegang saham Mei lalu, CEO Mark Zuckerberg mengakui bahwa masuk ke bisnis cloud adalah opsi yang “pasti di atas meja.” Ia mengungkapkan bahwa hampir setiap pekan ada perusahaan yang mendekati Meta untuk membeli akses ke model AI atau kapasitas komputasi cadangan. Kini, dengan rencana yang mulai terungkap, pertanyaan besarnya adalah: apakah Meta mampu bersaing dengan para raksasa cloud yang sudah mapan, atau justru akan terjebak dalam perang harga yang menggerus margin?



