AS Desak Netanyahu Kutuk Pengepungan Pemukim di Tepi Barat: Rumah Warga Palestina-Amerika Jadi Sasaran
Baca dalam 60 detik
- Pemerintahan Biden secara pribadi menekan Perdana Menteri Israel untuk mengeluarkan pernyataan publik menentang aksi pemukim yang mengepung desa Qusra.
- Desakan Washington dipicu oleh penargetan rumah seorang warga Palestina-Amerika, meningkatkan urgensi diplomatik di tengah meningkatnya kekerasan pemukim pasca-7 Oktober.
- Langkah Netanyahu berisiko secara politik karena pemilih pemukim adalah basis koalisinya, sementara jajak pendapat menunjukkan posisinya melemah menjelang pemilu.

Pemerintah Amerika Serikat secara pribadi mendesak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk secara terbuka mengutuk pemukim militan yang telah mengepung rumah-rumah warga Palestina di Tepi Barat, sebuah langkah yang dapat mengguncang koalisi sayap kanannya menjelang pemilu. Desakan ini muncul setelah rumah seorang warga Palestina-Amerika menjadi sasaran blokade, yang menurut para pejabat AS dan Israel telah memicu protes keras dari Washington.
Selama hampir satu pekan, pemukim telah mengelilingi tiga rumah di desa Qusra, selatan Nablus, memutus aliran listrik dan air, serta menjebak sekitar 15 warga Palestina, termasuk dua anak-anak, di dalam rumah mereka tanpa akses kebutuhan dasar. Kelompok hak asasi manusia menilai aksi ini merupakan bagian dari upaya sistematis untuk merebut lebih banyak lahan di wilayah yang ingin dijadikan negara Palestina. Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, yang dikenal sebagai pendukung kuat permukiman Yahudi, bahkan menyebut para pemukim sebagai "teroris Israel" dalam kecamannya pada Kamis lalu.
Menurut dua pejabat yang mengetahui diskusi sensitif tersebut, Gedung Putih mulai angkat bicara setelah mengetahui bahwa rumah seorang warga Palestina-Amerika termasuk di antara yang dikepung. "Tepi Barat yang stabil menjaga keamanan Israel dan sejalan dengan tujuan pemerintahan ini untuk mencapai perdamaian di kawasan," demikian pernyataan seorang pejabat Gedung Putih kepada Reuters, Jumat (14/8). Namun, kantor Netanyahu belum memberikan komentar resmi terkait pengepungan di Qusra.
Konteks politik dalam negeri Israel menambah kerumitan. Dengan pemilu yang tinggal dua bulan lagi, Netanyahu berada di posisi yang sulit. Mengutuk pemukim dapat mengasingkan pemilih yang menjadi tulang punggung koalisi sayap kanannya, sementara jajak pendapat menunjukkan elektabilitasnya masih terpuruk akibat serangan Hamas pada 2023. "Kami sangat ketakutan," ujar Aysha Hassan, seorang warga Palestina yang tinggal di salah satu rumah yang dikepung, melalui sambungan telepon. "Tidak ada yang baru. Sudah enam hari seperti ini... para pemukim masih di sini."
Video yang direkam warga dan diperoleh Reuters memperlihatkan tujuh pemukim berdiri di dekat tenda biru, salah satunya melempar batu ke arah desa, sebelum tentara Israel tiba dan merobohkan tenda tersebut. Militer Israel membenarkan bahwa warga sipil mendirikan tenda di area Qusra dan pasukan bertindak untuk membongkarnya sambil melindungi penduduk setempat. Namun, laporan menyebut puluhan tentara justru menduduki beberapa rumah warga, dan video lain menunjukkan personel militer ikut dalam doa pagi bersama pemukimโsebuah tindakan yang menurut militer sedang diproses secara disipliner.
Bagi Indonesia, eskalasi ini menegaskan kembali pentingnya solidaritas terhadap perjuangan rakyat Palestina, yang selama ini menjadi sikap konsisten pemerintah. Meningkatnya kekerasan pemukim di Tepi Barat tidak hanya mengancam solusi dua negara, tetapi juga berpotensi memicu ketidakstabilan kawasan yang berdampak pada harga energi dan rantai pasok global. Ketika Netanyahu terus bungkam, pertanyaannya kini: akankah tekanan AS cukup untuk mengubah kebijakan Israel, atau justru semakin memperkuat basis pemilih sayap kanan menjelang pemilu? Jawabannya akan menentukan arah konflik yang telah berlangsung puluhan tahun ini.



