Bangladesh di Ambang Sejarah: Unggul 67 Run atas Australia di Darwin
Baca dalam 60 detik
- Tim tamu hanya butuh 4 wicket lagi untuk memenangi Test perdana mereka di Australia.
- Mehidy Hasan Miraz menjadi pahlawan dengan menjatuhkan Steve Smith, pilar utama tuan rumah.
- Australia belum pernah kalah di kandang dari Bangladesh, tetapi kini tertinggal 67 run dengan 6 wicket tersisa.

Darwin โ Mimpi Bangladesh untuk meraih kemenangan perdana dalam sejarah Test di Australia semakin nyata. Pada hari ketiga pertandingan pertama di Marrara Oval, Sabtu (22/6), tim tamu berhasil menempatkan Australia di posisi terjepit dengan skor 161-4, masih tertinggal 67 run dari total 426 yang mereka kumpulkan pada inning pertama.
Momen krusial terjadi ketika off-spinner Mehidy Hasan Miraz menjatuhkan Steve Smith, yang selama ini menjadi andalan Australia. Smith yang mencoba menguasai bola, justru memberikan bola kembali ke Miraz dan harus meninggalkan lapangan dengan 44 run dari 88 bola. Kepergian Smith membuat Australia kehilangan keseimbangan, meskipun Cameron Green (43*) dan Alex Carey (19*) masih berjuang untuk menyelamatkan pertandingan.
Bangladesh sebelumnya tampil solid dengan menambah 75 run pada inning pertama mereka, ditutup dengan skor 426. Josh Hazlewood menjadi bintang bagi Australia dengan 6-89, sekaligus merayakan pencapaian 300 wicket Test. Namun, ketahanan Miraz yang mencetak 65 run dari 154 bola, bersama pukulan Tanzid Hasan (101), Najmul Hossain Shanto (84), dan Mehidy sendiri, membuat serangan Australia kewalahan.
Kapten Bangladesh, Najmul Hossain Shanto, memuji penampilan timnya yang penuh karakter. "Cara kami menunjukkan mentalitas dan bermain selama dua-tiga hari terakhir ini luar biasa. Saya sangat senang melihat mereka bermain seperti ini," ujarnya. Sementara itu, seamer Hasan Mahmud, yang tampil gemilang dengan 6-55 pada inning pertama, kembali mengguncang Australia dengan memecah kedua pembuka, Jake Weatherald (0) dan Travis Head (17), yang keduanya terkena bola yang masuk ke stumps.
Bagi Australia, ini adalah ujian besar. Mereka belum pernah kalah di kandang dari Bangladesh, dengan rekor lima kemenangan dan satu kekalahan di Mirpur pada 2017. Namun, dengan enam wicket tersisa dan masih tertinggal 67 run, tuan rumah harus bekerja keras untuk menghindari kekalahan bersejarah. Green, yang posisinya sempat dipertanyakan, kini menjadi harapan utama bersama Carey.
Konteks Indonesia: Meski kriket belum sepopuler sepak bola di Indonesia, perkembangan ini menarik bagi penggemar olahraga yang mengikuti turnamen internasional. Kebangkitan Bangladesh, yang sebelumnya dianggap tim lemah, menunjukkan bahwa kesenjangan di kriket dunia semakin menyempit. Bagi Indonesia yang tengah mengembangkan olahraga ini, keberhasilan Bangladesh bisa menjadi inspirasi bahwa dengan kerja keras, tim non-tradisional mampu bersaing di level tertinggi.
Pertandingan masih menyisakan dua hari. Pertanyaannya, mampukah Green dan Carey bertahan, atau akankah Bangladesh mencatatkan sejarah yang akan dikenang lama? Semua mata akan tertuju pada Marrara Oval di hari keempat.



