Eropa Terbakar: Gelombang Panas Ekstrem Picu Kebakaran Hutan di 7 Negara
Baca dalam 60 detik
- Gelombang panas ekstrem melanda Eropa, memicu kebakaran hutan di Prancis, Inggris, Spanyol, Jerman, Kroasia, Albania, dan Yunani.
- Kebakaran di Stourbridge, Inggris, menghancurkan puluhan rumah, sementara Prancis menutup enam reaktor nuklir akibat kekeringan dan suhu tinggi.
- Para ahli mengaitkan kejadian ini dengan perubahan iklim, dan negara-negara Eropa yang tidak terbiasa dengan panas ekstrem kini berjuang menghadapi dampaknya.

Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa dalam pekan ini memicu kebakaran hutan di sejumlah negara, memaksa ribuan warga mengungsi dan menimbulkan korban jiwa. Dari Prancis hingga Kroasia, para petugas pemadam kebakaran kewalahan menghadapi api yang menyebar cepat di tengah kondisi lahan yang sangat kering.
Di Prancis, kebakaran hutan baru melanda kawasan Landes di pantai barat daya, memaksa lebih dari 500 orang meninggalkan rumah mereka di kota Luglon. Ini merupakan salah satu dari beberapa kebakaran yang melanda hutan-hutan Prancis pekan ini, termasuk di wilayah utara dan Brittany yang biasanya lebih sejuk dan basah. Sebelumnya, kebakaran besar di dekat Bordeaux bulan lalu telah memaksa 250.000 orang mengungsi.
Kekeringan ekstrem juga memaksa perusahaan listrik EDF menutup enam reaktor nuklir dalam beberapa hari terakhir. Selain karena suhu tinggi dan kekeringan, penutupan juga dipicu oleh munculnya ubur-ubur dalam jumlah besar di dekat pembangkit listrik di pesisir Selat Inggris. EDF menyatakan penutupan ini berdampak minimal pada produksi listrik dan tidak menimbulkan risiko keselamatan.
Di Inggris, kebakaran besar di Stourbridge, kota di kawasan West Midlands, menghancurkan sekitar 20 hingga 30 rumah. Seorang warga yang dievakuasi, Jane Baxter, menuturkan kepada BBC Radio bahwa polisi memintanya segera pergi karena api berpindah arah dengan cepat. Sementara itu, suhu di London barat mencapai 38,1 derajat Celsius pada Kamis, mencatat rekor hari terpanas tahun ini. Juli ini juga menjadi bulan terkering di Inggris dan Wales sejak pencatatan dimulai pada 1836.
Spanyol menghadapi kebakaran di dua wilayah. Di Aragon, otoritas setempat memindahkan jenazah tiga raja abad ke-11 dari sebuah biara untuk menghindari api. Sementara di Huelva, kebakaran besar telah menghanguskan lebih dari 300 kilometer persegi. Di Jerman, seluruh 1.800 penduduk desa Gey dievakuasi karena kebakaran di hutan Hurtgen yang mendekat. Upaya pemadaman terhambat oleh adanya sisa bom Perang Dunia II di area tersebut.
Kroasia melaporkan satu orang tewas dan 14 lainnya dirawat di rumah sakit akibat kebakaran di dekat kota pesisir Omis. Sekitar 194 orang, termasuk anak-anak, dievakuasi dari laut dan perahu saat mencoba melarikan diri. Albania juga masih berjuang memadamkan 11 kebakaran aktif, dengan tiga orang dituntut karena gagal melindungi wilayah Taman Nasional Lura. Yunani mengevakuasi lebih dari 300 wisatawan dan warga melalui laut setelah kebakaran melanda hutan pinus di utara.
Para ilmuwan menegaskan bahwa gelombang panas ekstrem ini terkait dengan perubahan iklim yang disebabkan aktivitas manusia. Negara-negara Eropa yang terbiasa dengan musim dingin panjang kini tidak siap menghadapi panas seperti ini, dengan keterbatasan AC dan infrastruktur yang dirancang untuk iklim sejuk. Jerman mencatat rekor kematian akibat panas tahun ini, dengan sekitar 12.500 orang meninggal antara Januari dan Agustus, melampaui total tahun 2018.
โMereka pikir api berubah arah, dan mereka tidak tahu ke mana arahnya. Jadi, benar-benar 'ambil barang yang kamu butuhkan dan keluar',โ ujar Jane Baxter, warga Stourbridge yang dievakuasi.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan dampak nyata perubahan iklim yang juga dirasakan di kawasan tropis. Meskipun Indonesia tidak mengalami kebakaran hutan akibat panas ekstrem seperti Eropa, risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap tinggi, terutama di musim kemarau. Negara-negara Eropa yang kini berjuang melawan api menunjukkan bahwa tidak ada negara yang kebal terhadap perubahan iklim, dan Indonesia perlu memperkuat sistem pencegahan serta penanganan kebakaran hutan.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah negara-negara Eropa akan berinvestasi lebih besar dalam adaptasi iklim, seperti sistem pendingin yang lebih baik dan pengelolaan hutan yang lebih tahan api. Sementara itu, gelombang panas diperkirakan akan terus terjadi, dan dunia harus bersiap menghadapi 'normal baru' yang lebih ekstrem.



