Dan Evans Tutup Karier di Wimbledon: Air Mata dan Kenangan 20 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Petenis Inggris Dan Evans mengakhiri karier profesionalnya setelah kalah di babak pertama ganda putra Wimbledon bersama Henry Searle.
- Evans, yang pensiun di usia 36 tahun, meninggalkan warisan sebagai anggota tim Davis Cup 2015 yang mengakhiri puasa gelar Inggris selama 79 tahun.
- Perpisahan emosional di Court 15 dihadiri penggemar setia, dengan penghormatan dari Andy Murray, Jack Draper, dan Tim Henman.

Dan Evans mengucapkan selamat tinggal pada Wimbledon dengan mata berkaca-kaca, menandai akhir dari perjalanan 20 tahun sebagai petenis profesional. Kekalahan di babak pertama ganda putra bersama Henry Searle dari unggulan kesembilan Hugo Nys dan Edouard Roger-Vasselin dengan skor 6-2, 6-4, menjadi laga terakhirnya di lapangan rumput suci All England Club.
Petenis berusia 36 tahun itu mengumumkan pensiun pada Juni lalu, memilih Wimbledon sebagai panggung pamungkas. Namun, ia gagal tampil di nomor tunggal setelah kehilangan wildcard dan tersingkir di kualifikasi. Meski demikian, momen perpisahan di Court 15 tetap terasa istimewa. Ratusan penggemar memadati tribun, beberapa di antaranya mengenakan kaus bertuliskan 'Thanks Dan', sementara namanya diteriakkan bergantian sepanjang pertandingan.
Karier Evans mungkin tidak seterang petenis top dunia, tetapi ia menorehkan jejak yang tak terlupakan. Dua gelar ATP Tour dan tiga kali mencapai babak ketiga Wimbledon menjadi pencapaian individu yang membanggakan. Namun, puncak kariernya adalah saat menjadi bagian dari tim Davis Cup Inggris yang merebut gelar pertama dalam 79 tahun pada 2015. Momen itu, menurut banyak pengamat, menjadi bukti nyata kemampuannya bersinar di panggung tim.
"Ini sangat emosional. Anda memikirkan keluarga dan semua pengorbanan yang telah kami lakukan. Anda menjalani mimpi di sini," ujar Evans kepada BBC Sport. "Turnamen ini adalah yang saya tonton sejak kecil. Saya ingat pulang sekolah dan menonton Wimbledon, dan saya adalah salah satu dari sedikit yang beruntung bisa bermain di sini pada akhirnya. Semuanya sepadan."
LTA (Lawn Tennis Association) merilis video penghormatan dari sejumlah nama besar, termasuk Sir Andy Murrayโyang pernah menjadi pasangan gandanya di Olimpiade 2024โJack Draper, dan legenda Tim Henman. "Ketika dia melangkah ke arena mewakili negaranya, saya pikir saat itulah dia bermain tenis terbaiknya," kata Henman. "Baik di Davis Cup, Olimpiade, atau United Cup, energi dan antusiasmenya menular. Ini benar-benar perjalanan yang luar biasa."
Bagi penggemar tenis di Indonesia, kisah Evans mengingatkan pada perjuangan petenis non-unggulan yang mampu bertahan lama di puncak. Meski Inggris memiliki tradisi tenis yang kuat, perjalanan Evans membuktikan bahwa dedikasi dan kerja keras bisa membawa hasil, bahkan tanpa menjadi juara Grand Slam. Di tengah dominasi petenis Amerika dan Eropa, Evans adalah contoh bahwa karier yang diisi dengan loyalitas dan semangat tim bisa sama berharganya dengan gelar individu.
Evans menghabiskan pekan terakhirnya di Wimbledon berkeliling lapangan, menonton rekan senegaranya, dan menyerap atmosfer untuk terakhir kalinya sebagai pemain. "Saya menikmati setiap menit yang saya habiskan di lapangan ini," katanya. Kini, setelah 20 tahun, Evans meninggalkan panggung yang telah memberinya begitu banyak kenangan. Pertanyaan yang tersisa: akankah regenerasi petenis Inggris mampu mengisi kekosongan yang ditinggalkannya?



