Kejuaraan Bulu Tangkis Dunia di Delhi: Melawan Monyet dan Burung Merpati demi Reputasi India
Baca dalam 60 detik
- Penyelenggara BWF World Championships di Delhi memasang sistem pintu ganda dan jaring berkualitas tinggi untuk mencegah gangguan satwa liar yang sempat mencoreng India Open.
- Insiden kotoran burung dan kemunculan monyet di turnamen Januari lalu memicu perombakan besar-besaran pada Indira Gandhi Indoor Stadium, termasuk perbaikan pencahayaan.
- Keberhasilan India menjadi tuan rumah turnamen ini menjadi ujian penting menjelang ambisinya menggelar Commonwealth Games 2030 dan Olimpiade 2036.

Delhi bersiap menghadapi tantangan tak lazim saat menjadi tuan rumah Kejuaraan Bulu Tangkis Dunia BWF pekan ini: mengusir monyet dan burung merpati dari dalam stadion. Langkah ini diambil setelah turnamen India Open pada Januari lalu berubah menjadi sorotan karena gangguan satwa liar, bukan aksi para atlet.
Gelaran yang berlangsung di Indira Gandhi Indoor Stadium pada 17-23 Agustus itu menjadi ajang pembuktian bagi India yang ingin tampil sebagai tuan rumah kelas dunia. Namun, kenangan pahit dari awal tahun masih membekas. Saat itu, pertandingan tunggal putra antara Loh Kean Yew dari Singapura dan HS Prannoy dari India terpaksa dihentikan dua kali karena kotoran burung merpati jatuh ke lapangan. Sebelumnya, seekor monyet juga terlihat berkeliaran di dalam stadion, sementara para pemain mengeluhkan polusi udara yang parah.
Untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang, Badminton Association of India (BAI) melakukan perombakan menyeluruh. Sekretaris Jenderal BAI, Sanjay Mishra, mengungkapkan bahwa pintu kayu diganti dengan sistem pintu ganda yang terkunci otomatis. Jaring berkualitas tinggi dipasang di setiap celah yang berpotensi menjadi jalan masuk burung atau hewan. Selain itu, gel non-toksik dioleskan pada tempat-tempat yang biasa dihinggapi merpati sebagai langkah antisipasi tambahan.
Upaya pengamanan ini tidak berhenti pada infrastruktur. Sebuah video yang memperlihatkan seorang pria menirukan suara lutung—primata berbadan besar yang menjadi predator alami kera ekor panjang—viral di media sosial. Meski banyak pemberitaan menyebutkan pria tersebut sengaja disewa, Mishra membantahnya. Ia menjelaskan bahwa kehadiran peniru suara lutung di blok utara stadion hanya bersifat insidental karena area yang luas. Tradisi menggunakan lutung untuk mengusir kera rhesus memang sudah lama dipraktikkan di Delhi, termasuk saat Commonwealth Games 2010 dan KTT G20 2023.
Bagi Indonesia, persiapan Delhi ini menjadi cermin bagaimana sebuah negara tuan rumah berjuang mengatasi kendala non-teknis. Pengalaman India menunjukkan bahwa faktor lingkungan dan satwa liar bisa menjadi sorotan yang mengalihkan perhatian dari pertandingan. Hal ini relevan dengan Indonesia yang juga bercita-cita menjadi tuan rumah berbagai event internasional, di mana kesiapan venue dan manajemen risiko menjadi kunci.
Turnamen ini juga menjadi panggung bagi para juara bertahan, Shi Yuqi dari China dan Akane Yamaguchi dari Jepang. India sendiri menaruh harapan besar pada PV Sindhu, peraih medali Olimpiade dua kali, untuk bersaing di nomor tunggal putri. Kesuksesan penyelenggaraan akan menentukan apakah India mampu meyakinkan dunia bahwa mereka layak menggelar event olahraga yang lebih besar di masa depan.
Dengan segala persiapan yang dilakukan, pertanyaan besarnya adalah: akankah Delhi mampu menjaga fokus pada permainan, atau justru kembali menjadi bahan tertawaan karena ulah satwa liar? Jawabannya akan terlihat dalam sepekan ke depan.



