Jonathan Van Ness Relakan Anjing Kesayangan Setelah Serangan Brutal ke Kucing
Baca dalam 60 detik
- Bintang Queer Eye, Jonathan Van Ness, menyerahkan anjingnya George ke organisasi penyelamat setelah insiden yang mematahkan rahang kucingnya.
- Kejadian terjadi di tangga rumah saat kucing Liza Meownelli memukul George, yang kemudian bereaksi agresif dan menyebabkan cedera serius.
- Keputusan sulit ini diambil demi keselamatan semua hewan peliharaan, dengan Jonathan mengakui bahwa meskipun berat, rehoming adalah langkah terbaik.

Keputusan pahit harus diambil oleh Jonathan Van Ness, presenter Queer Eye, setelah anjing kesayangannya, George, menyerang kucing peliharaannya, Liza Meownelli, hingga rahangnya patah. Insiden yang disebutnya sebagai "peristiwa yang menghancurkan hati" ini memaksa ia dan suaminya, Mark Peacock, untuk merelakan George kepada organisasi penyelamat hewan Muddy Paws Rescue di New York City.
Dalam unggahan video di Instagram, Jonathan yang tampak emosional menceritakan kronologi kejadian. Saat itu, George dan Liza berpapasan di tangga rumah. Liza yang merasa terganggu memberikan tamparan kecil pada George. Namun, reaksi George di luar dugaan: ia panik dan menyerang Liza. Jonathan menduga George hanya bermain kasar, bukan berniat menggigit, tetapi akibatnya fatalโrahang Liza patah parah.
"Saya langsung berteriak histeris memanggil Mark. Kami segera membawanya ke dokter hewan darurat," ujar Jonathan. Beruntung, tim di Schwartzman Animal Hospital berhasil menyelamatkan nyawa Liza melalui operasi yang ia sebut sebagai "keajaiban". Meski demikian, sejak melihat cedera kucingnya, Jonathan sudah tahu bahwa ia tidak bisa mempertahankan George di rumah yang sama.
Keputusan untuk melepas George bukanlah hal mudah. Jonathan mengaku bahwa jika ada yang mengatakan pagi itu ia akan kehilangan anjingnya di malam hari, ia akan menganggapnya gila. "Semua hewan selama ini rukun, sebagian besar waktu. Kejadian ini benar-benar di luar dugaan," katanya. Ia juga menekankan bahwa meskipun berat, ia bersyukur bisa menunjukkan tanggung jawab dengan memastikan keselamatan semua hewan peliharaannya.
Di Indonesia, kasus serupa sering terjadi namun jarang mendapat sorotan publik. Para pemilik hewan peliharaan dihadapkan pada dilema ketika hewan kesayangan mereka menunjukkan perilaku agresif. Menurut drh. Andika, seorang dokter hewan di Jakarta, "Agresi antarhewan dalam satu rumah bisa dipicu oleh banyak faktor, termasuk persaingan wilayah, stres, atau perubahan lingkungan. Penting bagi pemilik untuk memahami bahasa tubuh hewan dan menyediakan ruang aman bagi masing-masing." Kasus Jonathan Van Ness menjadi pengingat bahwa meskipun cinta pada hewan peliharaan begitu besar, keselamatan harus tetap menjadi prioritas utama.
Ke depan, Jonathan berharap George bisa mendapatkan rumah baru yang penuh kasih sayang dan aman. Ia juga mengingatkan para pemilik hewan untuk selalu waspada dan tidak ragu mencari bantuan profesional jika menghadapi situasi serupa. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah pengalaman ini mengubah cara publik memandang adopsi hewan dan pentingnya pelatihan perilaku?



