BYD Catat Kenaikan Penjualan Dua Bulan Berturut-turut, Ekspor Jadi Penopang
Baca dalam 60 detik
- Penjualan global BYD pada Juni 2024 mencapai 403.472 unit, naik 5,5% dibanding tahun lalu, didorong ekspor yang kuat.
- Kenaikan ini melanjutkan tren positif setelah delapan bulan penurunan, meski permintaan domestik China masih lesu.
- Pesaing utama BYD, Leapmotor, mencatat lonjakan penjualan 95% pada Juni, menandakan persaingan ketat di pasar EV.

Raksasa kendaraan listrik asal China, BYD, kembali mencatatkan peningkatan penjualan global pada Juni 2024, menandai bulan kedua berturut-turut pertumbuhan setelah delapan bulan penurunan. Ekspor yang kuat menjadi penyelamat di tengah lesunya permintaan domestik.
Berdasarkan pengajuan saham perusahaan, total penjualan kendaraan BYD pada Juni mencapai 403.472 unit, naik 5,5% dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka ini melanjutkan perbaikan dari kenaikan tipis 0,3% pada Mei yang mengakhiri tren negatif panjang. Namun, pertumbuhan tersebut masih jauh di bawah capaian pesaing tercepat BYD, Leapmotor, yang mencatat lonjakan penjualan 95% secara tahunan menjadi 93.376 unit kendaraan listrik.
Kinerja BYD mengindikasikan bahwa strategi ekspansi global mulai membuahkan hasil. Perusahaan telah gencar memasuki pasar Asia Tenggara, Eropa, dan Amerika Latin, dengan model-model seperti Atto 3 dan Seal yang mendapat sambutan positif. Di sisi lain, pasar domestik China masih dibayangi perlambatan ekonomi dan perang harga yang ketat, sehingga ekspor menjadi andalan untuk mempertahankan pertumbuhan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi langsung. BYD telah mengumumkan rencana investasi pabrik di Indonesia dengan kapasitas produksi 150.000 unit per tahun, yang dijadwalkan beroperasi pada 2026. Kehadiran BYD diprediksi akan memperketat persaingan di pasar kendaraan listrik domestik, yang saat ini didominasi oleh Hyundai, Wuling, dan merek-merek China lainnya. Dengan strategi agresif BYD, konsumen Indonesia berpotensi menikmati lebih banyak pilihan model dengan harga kompetitif.
Menurut analis industri, keberhasilan BYD di pasar global tidak lepas dari kemampuan perusahaan mengintegrasikan rantai pasok secara vertikal, termasuk produksi baterai sendiri. Hal ini memberikan keunggulan biaya yang sulit ditandingi pesaing. Namun, tantangan tetap ada, seperti tarif impor yang tinggi di beberapa negara dan kekhawatiran akan praktik perdagangan tidak adil. Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah BYD dapat mempertahankan momentum ini di tengah perlambatan ekonomi global dan meningkatnya proteksionisme.



