Iklan Skuter Listrik Luyuan Tuai Kecaman: Wanita Jadi Objek, Perusahaan Minta Maaf
Baca dalam 60 detik
- Produsen skuter listrik asal China, Luyuan, meminta maaf setelah iklan yang menampilkan model perempuan dalam pose seksual menuai kritik publik.
- Iklan yang telah dihapus itu dianggap merendahkan perempuan dan tidak relevan dengan fitur produk, memicu perdebatan tentang etika pemasaran di China.
- Kasus ini menambah daftar kontroversi iklan di China, termasuk Dettol dan layanan penjara Hong Kong, yang dinilai gagal menyampaikan pesan dengan tepat.

Produsen skuter listrik asal China, Luyuan, menyampaikan permintaan maaf resmi setelah serangkaian iklan promosi yang dinilai vulgar dan merendahkan perempuan memicu gelombang kecaman di media sosial. Perusahaan yang mengoperasikan lebih dari 14.000 gerai ritel di 80 negara itu mengakui bahwa materi iklan yang menampilkan model perempuan dalam pose sugestif telah melanggar norma publik dan berjanji akan mengevaluasi ulang seluruh konten pemasaran mereka.
Dalam salah satu iklan berdurasi 30 detik, seorang wanita terlihat berbaring di atas skuter dengan kaki bertumpu pada setang, sementara kamera menyorot bagian bokongnya secara eksplisit. Iklan lain menampilkan model berdiri di atas jok skuter dengan satu kaki terangkat hingga memperlihatkan pakaian dalam. Semua materi iklan tersebut telah dihapus dari platform digital Luyuan setelah menuai kritik tajam dari warganet.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Kamis (2/7), Luyuan menyatakan bertanggung jawab penuh atas kontroversi ini dan tidak akan mencari-cari alasan. Perusahaan juga mengonfirmasi bahwa pihak yang bertanggung jawab atas kampanye iklan telah dikenai sanksi internal. โKami memulai tinjauan konten di seluruh platform untuk memastikan insiden serupa tidak terulang lagi,โ tulis manajemen Luyuan.
Kritik warganet tidak hanya menyoroti unsur seksis, tetapi juga ketidakrelevanan iklan dengan produk. Seorang pengguna Xiaohongshu dengan nama Yue Chichi mempertanyakan, โApa maksudnya ini? Apakah skutermu tidak laku sehingga harus pakai trik kotor?โ Di Weibo, banyak pengguna menyarankan agar Luyuan menggunakan model pria paruh baya untuk mendemonstrasikan tidur siang di atas kendaraan, bukan perempuan muda. โIklan ini bahkan tidak menunjukkan fitur atau performa kendaraan,โ tulis seorang warganet. Akun Round Shadow menyebut iklan tersebut โpayahโ.
Kontroversi Luyuan bukanlah yang pertama di China. Beberapa pekan sebelumnya, merek pembersih asal Inggris, Dettol, juga dikritik habis-habisan karena iklan yang menampilkan pria menuntut istri yang โbersihโ. Dettol mengklaim iklan itu bertujuan menantang seksisme, tetapi justru dianggap memperkuat stereotip berbahaya. Layanan penjara Hong Kong juga baru-baru ini menarik iklan antinarkoba yang dihasilkan AI, yang menampilkan grup K-pop perempuan mewakili narkoba, namun malah diejek karena dianggap mempromosikan penyalahgunaan zat.
Kasus Luyuan menjadi pengingat bahwa pemasaran yang mengandalkan sensualitas tanpa kaitan dengan produk berisiko tinggi memicu backlash, terutama di era media sosial yang cepat bereaksi. Bagi Indonesia, di mana pasar sepeda motor listrik mulai tumbuh, pelajaran dari China ini relevan: konsumen semakin kritis terhadap konten yang merendahkan atau tidak etis. Regulator dan pelaku usaha di Tanah Air perlu mencermati tren ini agar tidak terjebak dalam praktik serupa yang justru merusak reputasi merek.
Ke depan, Luyuan menghadapi tantangan memulihkan citra di tengah persaingan ketat industri kendaraan listrik. Apakah permintaan maaf dan sanksi internal cukup untuk mengembalikan kepercayaan publik, atau justru akan memicu boikot berkepanjangan? Respons pasar terhadap langkah korektif perusahaan akan menjadi indikator penting bagi strategi pemasaran merek global di Asia.



