Sony Hentikan Produksi Cakram Game PlayStation Mulai 2028, Era Digital Makin Dominan
Baca dalam 60 detik
- Sony Interactive Entertainment akan menghentikan produksi cakram fisik untuk semua game PlayStation baru mulai 2028, beralih ke format digital murni.
- Langkah ini merespons pergeseran preferensi konsumen global yang kini lebih memilih unduhan digital, dengan penjualan cakram fisik Sony hanya di bawah 5% dari total pendapatan game.
- Keputusan ini berpotensi mengubah lanskap distribusi game di Indonesia, di mana akses internet dan infrastruktur digital menjadi faktor kunci adopsi.

Sony Interactive Entertainment (SIE) mengumumkan akan menghentikan produksi cakram fisik untuk seluruh game baru di konsol PlayStation mulai 2028. Langkah ini menandai babak baru dalam industri game global, di mana format digital menjadi satu-satunya saluran distribusi untuk rilisan mendatang.
Keputusan ini diambil seiring dengan perubahan perilaku konsumen yang semakin beralih ke unduhan digital dan layanan streaming. Sid Shuman, direktur senior komunikasi konten SIE, menyatakan bahwa langkah ini merupakan arah alami bagi perusahaan untuk beradaptasi dengan tren pasar. "Preferensi umum terhadap media digital jauh melampaui cakram fisik," ujarnya dalam pernyataan resmi.
Meski demikian, Sony memastikan bahwa game yang sudah dirilis atau akan dirilis dalam format cakram sebelum Januari 2028 tetap tersedia. Artinya, transisi ini tidak akan berdampak langsung pada koleksi game fisik yang sudah ada.
Langkah Sony ini sejalan dengan tren industri yang semakin meninggalkan media fisik. Microsoft dan Nintendo juga telah menunjukkan pergeseran serupa, meskipun dengan kecepatan berbeda. Bagi para kolektor dan penggemar game fisik, keputusan ini mungkin terasa mengecewakan, namun data menunjukkan bahwa pasar telah bergerak ke arah digital sejak lama.
Di Indonesia, implikasi kebijakan ini cukup signifikan. Meskipun penetrasi internet terus meningkat, masih ada tantangan infrastruktur di beberapa daerah. Kecepatan unduh yang lambat dan kuota data yang terbatas bisa menjadi hambatan bagi gamer Indonesia untuk mengadopsi game digital sepenuhnya. Namun, dengan semakin maraknya layanan cloud gaming dan peningkatan akses broadband, transisi ini mungkin tidak terhindarkan.
Para analis memperkirakan bahwa langkah Sony akan mendorong pesaing untuk mempercepat strategi digital mereka. Selain itu, produsen aksesori dan toko ritel game fisik harus mulai memikirkan ulang model bisnis mereka. Pertanyaan yang muncul kemudian: akankah konsumen Indonesia siap meninggalkan cakram fisik sepenuhnya dalam waktu dekat?



