Kathie Lee Gifford: Di Balik Senyum, Ada Rasa Ingin Mati Akibat Penyakit Kronis
Baca dalam 60 detik
- Pembawa acara legendaris Kathie Lee Gifford, 72, mengaku sempat beberapa kali ingin mati karena serangkaian cedera dan penyakit yang membuatnya sulit bergerak.
- Meski tubuhnya 'hancur' akibat patah tulang pinggul dan lengan, ia tetap mempertahankan selera humor dan kini bisa berlari bersama kelima cucunya.
- Kisahnya menjadi pengingat akan pentingnya dukungan mental dan fisik di usia senja, relevan dengan meningkatnya populasi lansia di Indonesia.

Kathie Lee Gifford, presenter kondang yang pernah memandu acara Today dan Live! with Regis and Kathie Lee, mengungkapkan bahwa ia sempat beberapa kali menginginkan kematian akibat berbagai masalah kesehatan yang bertubi-tubi. Di usia 72 tahun, perempuan yang dikenal ceria ini harus berjuang melawan rasa sakit dan keterbatasan fisik yang membuatnya merasa tidak ingin hidup lagi.
Dalam wawancara dengan majalah People, Gifford menceritakan pengalamannya mengalami patah tulang pinggul dan lengan dalam beberapa tahun terakhir. Cedera itu membuatnya tidak bisa bermain dengan kelima cucunya, sebuah aktivitas yang sangat ia cintai. "Saya merasa seperti Mr. Potato Head! Satu bagian lepas, lalu bagian lain," ujarnya sambil bercanda, meski di balik canda itu tersimpan kepedihan yang mendalam.
Gifford mengaku bahwa pada saat-saat terberat, ia benar-benar tidak ingin berada di dunia ini. "Saya tidak akan menyakiti diri sendiri atau bunuh diri. Saya hanya tidak ingin berada di sini—seberkat apa pun saya," katanya. Namun, ia menegaskan bahwa selera humor adalah kunci yang membuatnya bertahan. "Syukurlah saya tidak pernah kehilangan itu, bahkan di saat-saat paling suram sekalipun. Saya wanita tangguh."
Setelah menjalani beberapa operasi dan terapi fisik intensif, kondisi Gifford berangsur membaik. Kini ia bisa berlari "ke mana-mana" bersama cucu-cucunya. "Mereka semua luar biasa. Saya berharap, Tuhan mengizinkan, saya memiliki bertahun-tahun lagi bersama mereka," tuturnya penuh harap. Tahun lalu, ia sempat mengatakan kepada majalah OK! bahwa kesehatannya "sempurna" tetapi tubuhnya "hancur". "Tiga tahun terakhir sangat berat. Bagian tubuh saya aus karena terlalu banyak aktivitas. Saya mengganti pinggul, bahu—cedera lama yang akhirnya parah. Tapi kesehatan saya sempurna! Saya hancur!"
Kisah Gifford menyoroti realitas yang kerap dihadapi lansia: tubuh yang menua tidak selalu sejalan dengan semangat yang masih membara. Di Indonesia, di mana jumlah penduduk lanjut usia terus meningkat—mencapai lebih dari 30 juta jiwa pada 2023 menurut BPS—cerita seperti ini menjadi pengingat akan pentingnya perawatan kesehatan holistik yang mencakup dukungan mental. Banyak lansia Indonesia juga mengalami kondisi serupa, seperti osteoporosis dan artritis, yang membatasi mobilitas dan memicu depresi.
Gifford, yang dikenal dengan energi positifnya di layar kaca, berharap dikenang sebagai sosok yang baik dan lucu. "Saya ingin dikenang sebagai seseorang yang jika hanya bertemu sekali pun, mereka berpikir, 'Dia baik. Dia membuatku tertawa,'" ujarnya. Namun, di balik harapan itu, ia juga menunjukkan bahwa kerentanan adalah bagian dari kemanusiaan—dan bahwa meminta bantuan adalah tanda kekuatan, bukan kelemahan.
Ke depannya, pertanyaan yang muncul adalah: bagaimana sistem kesehatan dan dukungan sosial di Indonesia dapat lebih siap menghadapi ledakan jumlah lansia? Apakah layanan geriatri dan konseling psikologis sudah cukup mudah diakses? Kisah Gifford mungkin hanya satu dari jutaan, tetapi ia membuka percakapan yang lebih luas tentang penuaan yang bermartabat dan bahagia.



