Sara Bareilles: Duka yang Melahirkan Karya dan Transformasi Diri
Baca dalam 60 detik
- Pelantun 'Love Song' kehilangan dua sahabat dekat dalam enam bulan terakhir dan menjalani perjuangan kesuburan yang berat.
- Bagi Bareilles, duka yang dibagikan justru menjadi katalis pertumbuhan pribadi dan kreativitas, melahirkan album baru 'Good Grief'.
- Album tersebut terinspirasi dari percakapan tentang kehilangan, termasuk wawancara Anderson Cooper dengan Stephen Colbert soal kematian ayah.

Duka yang mendalam justru menjadi bahan bakar kreatif bagi Sara Bareilles. Dalam enam bulan terakhir, penyanyi berusia 44 tahun itu kehilangan dua sahabat dekatnya, Chad Joseph dan Gavin Creel, sementara ia sendiri masih bergulat dengan perjalanan kesuburan yang penuh tantangan. Namun, alih-alih tenggelam dalam kesedihan, Bareilles memilih untuk merangkulnya sebagai bagian dari proses menjadi pribadi yang lebih utuh.
Dalam wawancara terbaru dengan Rolling Stone, Bareilles mengungkapkan bahwa ia tidak akan menukar enam tahun terakhir hidupnya, meskipun diwarnai kehilangan. “Duka harus disaksikan. Kamu harus membaginya. Ia tidak akan sembuh dengan sendirinya,” ujarnya. Bagi pelantun Love Song ini, alkemi duka hanya berubah ketika dibagikan kepada orang lain. “Pengakuan yang lahir dari meluangkan waktu untuk berbagi dan membongkar perasaan, serta saling melihat dalam duka, itulah yang benar-benar mentransformasi dan mentransmutasi,” tambahnya.
Bareilles mengakui bahwa rasa sakit selama enam tahun terakhir hampir tidak ingin ia ubah. “Tentu saja aku berharap teman-temanku masih di sini, tapi aku adalah orang yang berbeda karena kehilangan dan mencintai mereka. Aku lebih menjadi diriku yang seharusnya,” katanya. Ia menyebut duka sebagai “keajaiban” dan “cinta” yang indah. Proses penyembuhan tidak hanya melibatkan obat-obatan, tetapi juga meditasi, terapi, dan kerja sama dengan suaminya, Joe. Dari situlah musik mulai mengalir kembali.
Sebagian besar lagu di album terbarunya, Good Grief, lahir dalam tiga tahun terakhir. Salah satu lagu, Home, terinspirasi dari percakapan antara Anderson Cooper dan Stephen Colbert di podcast Cooper tentang duka. Colbert bercerita tentang kehilangan ayahnya dalam kecelakaan mobil di usia 53 tahun, dan bagaimana hal itu memengaruhinya ketika ia melewati usia tersebut. Bareilles, yang belum kehilangan orang tua, merasa tersentuh. “Ketika kamu hidup lebih lama dari orang yang kamu cintai, itu pengalaman yang luar biasa,” ujarnya. Lagu Home menjadi pusat album, berbicara tentang koneksi, pengakuan, dan katarsis. “Kita harus berani masuk ke sudut gelap untuk menemukan cahaya,” tutupnya.
Bagi pendengar di Indonesia, kisah Bareilles mengingatkan bahwa duka bukanlah akhir, melainkan pintu menuju pemahaman diri yang lebih dalam. Di tengah budaya yang kerap menekan ekspresi kesedihan, pengalaman musisi ini menjadi pengingat bahwa berbagi duka justru memperkuat ikatan kemanusiaan. Album Good Grief diharapkan menjadi teman bagi siapa pun yang sedang bergulat dengan kehilangan, menunjukkan bahwa dari luka bisa lahir keindahan.



