Skyroot Aerospace Siap Luncurkan Roket Orbital Swasta Pertama India
Baca dalam 60 detik
- Startup antariksa India Skyroot Aerospace akan meluncurkan roket Vikram-1, misi orbital pertama oleh perusahaan swasta India, dengan jendela peluncuran 12 Juliโ4 Agustus.
- Vikram-1 dirancang membawa muatan hingga 350 kg ke orbit rendah Bumi, bersaing dengan roket kecil buatan Rocket Lab dan Firefly Aerospace.
- Keberhasilan misi ini menjadi ujung tombak ambisi India membangun ekonomi antariksa senilai $44 miliar pada 2033, membuka peluang bagi industri swasta termasuk potensi kerja sama dengan Indonesia.

India segera mencatat sejarah baru di sektor antariksa komersial. Skyroot Aerospace, startup yang didirikan oleh mantan insinyur Organisasi Riset Antariksa India (ISRO), mengumumkan persiapan peluncuran roket orbital pertamanya, Vikram-1. Misi ini menjadi upaya pertama perusahaan swasta India untuk menempatkan satelit ke orbit.
Roket setinggi tujuh lantai itu memiliki kemampuan membawa muatan hingga 350 kilogram ke orbit rendah Bumi (LEO). Dengan desain multi-tahap, Vikram-1 menyasar pasar peluncuran satelit kecil yang selama ini didominasi oleh roket buatan Rocket Lab dan Firefly Aerospace. Skyroot menargetkan jendela peluncuran antara 12 Juli hingga 4 Agustus dari Satish Dhawan Space Centre, pelabuhan antariksa utama India.
Penerbangan perdana ini akan membawa muatan dari pelanggan domestik dan internasional. Menurut perusahaan, tujuan utama misi adalah mengumpulkan data kinerja di udara, termasuk sistem propulsi, panduan, dan pemisahan tahap. Data ini akan menjadi tolok ukur bagi pengembangan roket komersial India ke depan.
Langkah Skyroot tidak bisa dilepaskan dari kebijakan liberalisasi sektor antariksa India. Pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi membuka pintu bagi perusahaan swasta untuk bersaing di pasar global peluncuran satelit dan jasa terkait. Industrialis besar seperti Larsen & Toubro dan Hindustan Aeronautics Limited juga mulai merambah manufaktur roket. Target ambisiusnya: membangun ekonomi antariksa senilai $44 miliar pada 2033.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka peluang strategis. Dengan kebutuhan satelit komunikasi, observasi bumi, dan navigasi yang terus meningkat, kerja sama dengan penyedia jasa peluncuran swasta seperti Skyroot bisa menjadi alternatif yang lebih fleksibel dan kompetitif dibandingkan bergantung sepenuhnya pada badan antariksa negara lain. Indonesia sendiri tengah mengembangkan ekosistem antariksa nasional melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN).
Menurut analis antariksa di Centre for Strategic and International Studies (CSIS) India, keberhasilan Skyroot akan menjadi demonstrasi bahwa sektor swasta mampu mengambil peran yang sebelumnya dimonopoli ISRO. โIni bukan sekadar peluncuran roket, melainkan uji kepercayaan terhadap model bisnis antariksa komersial India,โ ujarnya.
Namun, tantangan masih membentang. Industri roket kecil global semakin padat, dengan pemain seperti Rocket Lab, Firefly, dan Virgin Orbit yang sudah lebih dulu meluncur. Skyroot harus membuktikan keandalan teknis dan daya saing biaya. Pertanyaan besarnya: akankah Vikram-1 menjadi batu loncatan bagi India untuk merebut pangsa pasar peluncuran satelit kecil yang diperkirakan bernilai miliaran dolar dalam dekade mendatang?



