Petinju Muda Inggris Moses Itauma Diperintahkan IBF Bernegosiasi untuk Perebutkan Gelar Juara Dunia Kelas Berat
Baca dalam 60 detik
- IBF memerintahkan Moses Itauma (peringkat 3) dan Frank Sanchez (peringkat 1) untuk bernegosiasi memperebutkan sabuk juara kelas berat yang ditinggalkan Oleksandr Usyk.
- Itauma, 21 tahun, memiliki rekor 14 kemenangan (12 KO) dan dijadwalkan bertarung melawan Filip Hrgovic pada 29 Agustus, namun bisa mundur demi laga perebutan gelar.
- Langkah IBF membuka peluang bagi petinju muda untuk menjadi juara dunia termuda di era modern, sementara WBC telah menunjuk Agit Kabayel sebagai juara penuh.

Moses Itauma, petinju kelas berat asal Inggris yang masih berusia 21 tahun, mendapat peluang emas untuk merebut sabuk juara dunia setelah International Boxing Federation (IBF) secara resmi memerintahkan negosiasi antara dirinya dengan petinju Kuba, Frank Sanchez. Langkah ini diambil setelah juara dunia sebelumnya, Oleksandr Usyk, melepaskan sabuk IBF, WBA 'super', dan WBC pekan lalu.
Dalam pernyataan resminya, IBF menyebut bahwa Sanchez yang menempati peringkat pertama dalam daftar penantang wajib, harus berhadapan dengan Itauma yang berada di peringkat ketiga. Kedua petinju diberi batas waktu hingga 29 Juli untuk mencapai kesepakatan. Jika gagal, IBF akan menggelar lelang hak promosi. Keputusan ini mengubah peta persaingan kelas berat yang sempat stagnan setelah Usyk mengosongkan sabuknya.
Itauma, yang dijuluki sebagai prospek terbesar kelas berat, sebelumnya dijadwalkan menghadapi petinju Kroasia Filip Hrgovic di O2 Arena London pada 29 Agustus. Pertarungan itu disebutnya sebagai ujian terberat sepanjang karier. Namun, dengan adanya mandat IBF, ia dihadapkan pada pilihan: mundur dari laga melawan Hrgovic atau menunda negosiasi gelar hingga setelah pertarungan tersebut. Promotor Itauma, Queensberry, belum memberikan pernyataan resmi saat dikonfirmasi BBC Sport.
Kemenangan terakhir Itauma terjadi pada Maret lalu saat ia menghentikan Jermaine Franklin di ronde kelima di Manchester. Performa impresif itu memperkuat posisinya sebagai salah satu petinju muda paling menjanjikan. Sementara itu, Sanchez, yang juga tak terkalahkan, dikenal sebagai petinju dengan pukulan keras dan pengalaman bertarung di level elite.
Di sisi lain, WBC telah mengambil langkah berbeda dengan menaikkan status juara interim Agit Kabayel menjadi juara penuh setelah Usyk melepaskan sabuknya. Kabayel, petinju Jerman, sebelumnya dijadwalkan menjadi lawan wajib Usyk, namun sang juara Ukraina mendapat pengecualian untuk bertarung melawan Rico Verhoeven pada Mei lalu. Dua kali juara dunia tak terbantahkan, Usyk, kini bebas memilih lawan tanpa terikat kewajiban mempertahankan sabuk tertentu.
Bagi penggemar tinju Indonesia, perkembangan ini menarik karena kelas berat selalu menjadi magnet tersendiri. Meski belum ada petinju Indonesia yang merambah level tersebut, dinamika perebutan gelar juara dunia kelas berat kerap menjadi tolok ukur persaingan global. Keputusan IBF juga membuka peluang bagi petinju muda seperti Itauma untuk menjadi juara dunia termuda di era modern, mengingat usianya yang baru 21 tahun.
Pertanyaan besarnya, akankah Itauma berani mengambil risiko mundur dari laga melawan Hrgovic demi kesempatan merebut gelar? Atau justru Sanchez yang akan memanfaatkan pengalamannya untuk menggagalkan ambisi petinju muda Inggris itu? Dua bulan ke depan akan menjadi penentu arah karier kedua petinju.



