Usyk Pilih Wilder untuk Laga Pamungkas, Zuffa Boxing Jadi Kandidat Promotor
Baca dalam 60 detik
- Oleksandr Usyk, juara tinju kelas berat yang tak terkalahkan, tengah menjajaki pertarungan perpisahan melawan Deontay Wilder di bawah naungan Zuffa Boxing.
- Zuffa Boxing, perusahaan baru bentukan Dana White dengan dana Arab Saudi, berpotensi mengubah peta promosi tinju dengan sistem juara sendiri.
- Pertarungan ini bisa menjadi magnet besar bagi penggemar tinju global, termasuk Indonesia, yang memiliki basis penggemar tinju kelas berat yang solid.

Oleksandr Usyk, petinju kelas berat asal Ukraina yang belum terkalahkan dalam 25 pertarungan profesional, dikabarkan tengah bernegosiasi dengan Zuffa Boxing untuk menggelar laga perpisahan melawan mantan juara dunia Deontay Wilder di Amerika Serikat. Usyk, yang baru saja mengosongkan tiga sabuk juara dunianya, menegaskan bahwa dirinya belum pensiun dan hanya ingin 'satu tarian terakhir' sebelum benar-benar gantung sarung tinju.
Keputusan Usyk untuk melepas gelar WBA Super, WBC, dan IBF mengejutkan banyak pihak. Padahal, ia baru saja menjalani pertarungan kontroversial melawan legenda kickboxing Rico Verhoeven pada Mei lalu, yang berakhir dengan kemenangan TKO di ronde ke-11. Usyk sebenarnya diwajibkan untuk mempertahankan sabuk WBC-nya melawan juara interim Agit Kabayel, namun ia memilih untuk mundur dan membuka jalan bagi Kabayel menjadi juara penuh.
Kini, nama Wilder muncul sebagai lawan yang paling mungkin. Manajer Wilder, Shelly Finkel, menyatakan bahwa petinju asal Alabama itu akan menerima tawaran jika memang ada. "Jika Deontay ditawari pertarungan melawan Usyk, dia akan mengambilnya," ujar Finkel kepada BBC Sport. Sementara itu, direktur tim Usyk, Sergey Lapin, mengonfirmasi bahwa pembicaraan dengan Zuffa Boxing telah berlangsung di level tertinggi, meskipun belum ada kesepakatan yang ditandatangani.
Zuffa Boxing, yang digawangi oleh presiden UFC Dana White dengan sokongan dana dari Arab Saudi, tengah berusaha mengguncang industri tinju dengan model promosi alternatif. Alih-alih mengakui sabuk dari badan sanksi tradisional seperti WBC atau IBF, Zuffa berencana menciptakan juara versi mereka sendiri. Langkah ini bisa menjadi ancaman serius bagi ekosistem tinju yang sudah mapan, namun juga membuka peluang baru bagi petinju untuk mendapatkan bayaran lebih besar.
Bagi penggemar tinju di Indonesia, pertarungan Usyk vs Wilder memiliki daya tarik tersendiri. Keduanya adalah nama besar di kelas berat, divisi yang paling populer di Tanah Air. Jika pertarungan ini terealisasi, kemungkinan besar akan disiarkan secara global, termasuk melalui platform streaming yang bisa diakses oleh penggemar Indonesia. Namun, perlu dicatat bahwa Wilder sudah tidak lagi berada di puncak performanya sejak kekalahan beruntun dari Tyson Fury pada 2021. Meski begitu, ia masih menjadi ancaman karena kekuatan pukulannya yang mematikan.
Lapin menambahkan bahwa Amerika Serikat adalah "opsi paling logis" untuk pertarungan ini, namun tanggal dan lokasi masih terbuka. "Pertarungan level ini membutuhkan lebih dari sekadar nama besar. Dibutuhkan mitra yang tepat, venue yang tepat, platform siaran yang tepat, dan skala acara yang sesuai," ujarnya. Pertanyaan besarnya: akankah Zuffa Boxing benar-benar mampu menyaingi promotor tradisional seperti Matchroom atau Queensberry, atau justru akan menjadi gelembung yang pecah?



