Swiatek Akhiri Puasa Gelar Musim Ini, Kalahkan Rybakina di Kanada Terbuka
Baca dalam 60 detik
- Iga Swiatek menaklukkan Elena Rybakina 6-2, 6-3 di final Kanada Terbuka, mengamankan trofi pertamanya musim ini.
- Kemenangan ini membawa Swiatek kembali ke lima besar dunia dan menjadi modal berharga jelang AS Terbuka.
- Ben Shelton juga sukses mempertahankan gelar di nomor putra, mengalahkan Brandon Nakashima dalam dua set langsung.

Iga Swiatek akhirnya memecah kebuntuan gelar pada musim ini. Petenis Polandia berusia 25 tahun itu menaklukkan juara Australia Terbuka, Elena Rybakina, dengan skor telak 6-2, 6-3 pada partai puncak Kanada Terbuka di Toronto, Kamis (14/8) waktu setempat. Kemenangan ini menjadi gelar ke-26 sepanjang kariernya sekaligus trofi pertamanya di turnamen WTA musim ini.
Sejak awal laga, Swiatek tampil dominan. Ia berhasil mematahkan servis Rybakina dua kali di set pembuka dan menyelamatkan dua break point. Rybakina, yang sebelumnya tampil impresif di Melbourne, justru tampil di bawah performa terbaiknya dengan membuat 12 unforced errors di set pertama. Pada set kedua, perlawanan Rybakina sempat memberikan harapan saat unggul 2-1, namun Swiatek merespons dengan memenangkan lima dari enam game berikutnya untuk mengunci kemenangan dalam waktu satu jam 15 menit.
Kemenangan ini terasa sangat emosional bagi Swiatek, yang mengakui bahwa beberapa bulan terakhir bukanlah periode yang mudah. "Ini sangat berarti bagi saya karena bulan-bulan terakhir tidak mudah," ujarnya. Musim ini, Swiatek memang tampil inkonsisten. Ia hanya mencapai perempat final di Australia, lalu tersingkir lebih awal di Prancis dan Wimbledon. Kegagalan demi kegagalan itu memunculkan kritik dari berbagai pihak, terutama di media sosial.
Untuk mengatasi tekanan tersebut, Swiatek merekrut pelatih asal Spanyol, Francisco Roig, yang pernah bekerja dengan Rafael Nadal dan Emma Raducanu, pada bulan April. Langkah ini diharapkan bisa membantunya menemukan kembali performa terbaiknya. "Saya senang bisa terus fokus untuk berkembang, mengubah sedikit permainan saya, dan meningkatkan diri meskipun banyak opini orang tentang saya setiap hari di internet. Itu tidak mudah untuk dihadapi," tambah Swiatek.
Di sisi lain, Rybakina mengakui keunggulan lawannya. "Saya sudah mencoba yang terbaik, tapi itu tidak cukup," katanya. Petenis asal Kazakhstan itu sebelumnya menjalani tiga pertandingan beruntun yang harus diselesaikan dalam tiga set, sehingga kelelahan mungkin menjadi faktor. Namun, ia tetap tampil sebagai runner-up yang tangguh.
Prestasi Swiatek ini tentu menjadi perhatian bagi para penggemar tenis di Indonesia. Dengan kondisi fisik dan mental yang mulai stabil, ia diprediksi menjadi salah satu kandidat kuat di AS Terbuka yang akan berlangsung akhir bulan ini. Sejak memenangkan Wimbledon tahun lalu, Swiatek belum pernah meraih gelar Grand Slam lagi. AS Terbuka menjadi kesempatan emas untuk membuktikan bahwa ia masih menjadi kekuatan dominan di tunggal putri.
Sementara itu, di nomor putra, Ben Shelton sukses mempertahankan gelar Kanada Terbuka dengan mengalahkan rekan senegaranya, Brandon Nakashima, 6-3, 7-6 (7-4). Ini menjadi final all-American pertama di level ATP Masters 1000 sejak Andy Roddick mengalahkan Mardy Fish di Cincinnati pada 2003. Shelton, yang baru berusia 23 tahun, juga menjadi pemain pertama sejak Rafael Nadal pada 2019 yang mampu mempertahankan gelar di turnamen ini. Ia melakukannya tanpa kehilangan satu set pun, sebuah pencapaian yang terakhir kali dilakukan Novak Djokovic pada 2016.
Kesuksesan Shelton ini terasa spesial mengingat awal musimnya buruk. Ia tersingkir di putaran pertama Wimbledon, putaran kedua Roland Garros, dan hanya meraih satu kemenangan dalam empat turnamen Masters pertamanya musim ini. "Bisa bermain seperti yang saya lakukan minggu ini, melewati undian tanpa kehilangan satu set pun, itu menunjukkan kerja keras saya dan juga ketangguhan mental," ujar Shelton.
Dengan performa yang meningkat tajam, Shelton kini menjadi ancaman serius di AS Terbuka. Pertanyaannya, mampukah ia mempertahankan konsistensi ini? Atau justru Swiatek yang akan kembali ke puncak kejayaannya? Jawabannya akan terjawab di New York dalam beberapa pekan ke depan.



