Kembali ke Wimbledon Setelah Cedera, Dimitrov Menangis Haru di Lapangan
Baca dalam 60 detik
- Grigor Dimitrov sukses melewati babak pertama Wimbledon 2024 setahun setelah cedera pectoral memaksanya mundur di tengah pertandingan.
- Kemenangan atas Dane Sweeny menjadi momen emosional bagi petenis Bulgaria yang sempat meragukan pemulihannya.
- Petenis 35 tahun itu mengaku sangat berterima kasih atas dukungan penggemar dan kepercayaan panitia yang memberinya wildcard.

Setahun setelah meninggalkan Centre Court dengan air mata karena cedera, Grigor Dimitrov kembali ke Wimbledon dan meraih kemenangan yang sarat makna. Petenis Bulgaria berusia 35 tahun itu mengalahkan Dane Sweeny dari Australia dengan skor 7-6 (7-4), 6-3, 7-5 pada Selasa (2/7), dalam laga yang ia sebut sebagai salah satu hari paling berkesan sepanjang kariernya.
Pada edisi 2023, Dimitrov harus mundur saat unggul dua set atas petenis nomor satu dunia Jannik Sinner akibat cedera otot dada. Momen itu menjadi pukulan telak, apalagi ia sudah lima kali berturut-turut gagal menyelesaikan turnamen Grand Slam karena masalah fisik. Cedera tersebut bahkan membuatnya absen dari tur hingga Oktober dan memutus rekor penampilannya di 58 Grand Slam beruntun.
Kembali ke level tertinggi bukanlah perjalanan mudah. Dimitrov tersingkir di babak pertama Australia Terbuka dan gagal lolos kualifikasi Prancis Terbukaโpertama kalinya ia harus melewati kualifikasi Grand Slam sejak 2011. Namun, dukungan penonton dan kepercayaan panitia yang memberinya wildcard membuatnya merasa dihargai. "Saya sangat berterima kasih pada Wimbledon. Saya merasakan banyak cinta di sini," ujarnya kepada BBC Sport.
Bagi Dimitrov, kemenangan ini bukan sekadar angka. "Ini murni emosi. Setiap kali bermain di sini, ada energi yang istimewa. Kembali setelah 12 bulan dan menang berarti sangat besar bagi saya," katanya. Ia mengaku sangat mendambakan momen-momen seperti ini, terutama di tempat ikonik seperti Wimbledon. Petenis yang pernah menjadi semifinalis Wimbledon 2014 itu juga menyempatkan diri berfoto dan menandatangani autograf lama setelah pertandingan usai.
Di sisi lain, turnamen tahun ini juga menyajikan kejutan. Unggulan keempat asal Amerika Serikat, Ben Shelton, tersingkir di babak pertama setelah kalah dari Otto Virtanen (Finlandia) yang berada di peringkat 140 dunia. Shelton menyebut kekalahan 6-4, 3-6, 6-7 (8-10), 6-2, 7-6 (11-9) itu sebagai salah satu yang terberat dalam kariernya. Sementara itu, petenis veteran Stan Wawrinka mengakhiri penampilan terakhirnya di Wimbledon setelah kalah dari mantan runner-up Matteo Berrettini dalam pertarungan empat set yang berlangsung lebih dari empat jam. Keempat setnya harus ditentukan lewat tie-break, termasuk tie-break 34 poin di set kedua.
Bagi penggemar tenis Indonesia, kisah Dimitrov menjadi pengingat bahwa cedera bukanlah akhir segalanya. Dengan tekad dan dukungan yang tepat, seorang atlet bisa bangkit kembali. Pertanyaan selanjutnya: mampukah Dimitrov melaju lebih jauh dan mengulangi pencapaian semifinalnya satu dekade lalu?



