Wimbledon 2025: British Tennis Kembali Terpuruk, 15 dari 19 Wakil Tersingkir di Babak Awal
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 15 dari 19 petenis Inggris tersingkir di babak pertama Wimbledon 2025, jumlah terbanyak sejak 1988 dan tertinggi dalam hal persentase sejak 2013.
- Cedera yang menimpa bintang utama seperti Jack Draper dan Emma Raducanu memperparah krisis, memperlihatkan minimnya kedalaman skuad di peringkat 100 besar dunia.
- Meskipun ada optimisme dari figur seperti Tim Henman, kekhawatiran akan masa depan tenis Inggris terus mengemuka, terutama terkait pembinaan pemain dan aksesibilitas olahraga ini.

Wimbledon 2025 menjadi panggung memalukan bagi tenis Inggris: 15 dari 19 wakil tuan rumah harus angkat koper setelah babak pertama, menjadikannya kegagalan terburuk dalam 37 tahun terakhir. Angka ini memicu kembali perdebatan tentang akar masalah pembinaan petenis di negara yang mengklaim diri sebagai 'Grand Slam nation'.
Kegagalan ini tidak sepenuhnya mengejutkan. Dari 19 petenis yang berlaga di All England Club, 17 di antaranya menghadapi lawan yang berada di peringkat 55 besar dunia. Hanya empat pemain yang mendapat akses langsung ke undian utama berkat peringkat mereka; sisanya bergantung pada wildcard atau kualifikasi. Situasi diperparah oleh cedera yang menimpa dua bintang utama, Jack Draper dan Emma Raducanu, yang memaksa mereka mundur sebelum turnamen dimulai.
โBeberapa hari terakhir menunjukkan masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan,โ ujar Dan Evans, petenis veteran yang tidak mendapat wildcard di turnamen terakhir kariernya. Ia menilai minimnya petenis Inggris di peringkat 100 besar dunia sebagai masalah struktural. Hanya Cameron Norrie dan Jan Choinski (putra) serta Raducanu, Katie Boulter, dan Sonay Kartal (putri) yang menghuni posisi tersebut. โItu menyedihkan,โ tegas Evans.
Di tengah kritik, ada suara optimistis. Tim Henman, semifinalis Wimbledon empat kali dan anggota dewan All England Club, menilai kondisi tenis Inggris saat ini masih lebih baik dibanding era sebelum Andy Murray (pertengahan 2000-an). โHari pertama memang berat, tapi Anda tidak bisa menilai sistem hanya dari satu hari yang sulit,โ ujarnya. Henman menyoroti adanya 21 pemain Inggris yang berada di peringkat 101โ300 dunia, serta 14 pemain di dalam 200 besar โ naik dari hanya delapan pemain satu dekade lalu. Ia juga menunjuk potensi remaja seperti Mika Stojsavljevic, Hannah Klugman, dan Mimi Xu sebagai harapan masa depan.
Namun, dominasi Inggris di nomor ganda putra โ dengan lima pemain di 15 besar dunia dan gelar Grand Slam โ tidak mampu menutupi krisis di nomor tunggal, yang menjadi tolok ukur utama kesuksesan. Lawn Tennis Association (LTA) sendiri mengakui hasil Grand Slam belum sesuai harapan, tetapi membantah adanya masalah fundamental dalam pengembangan pemain. Direktur Performa LTA, Michael Bourne, menekankan bahwa petenis tidak bisa disubstitusi seperti olahraga lain, sehingga risiko cedera lebih tinggi. Cedera memang menjadi momok: Draper absen lama karena cedera lengan, Norrie cedera tulang rusuk, Raducanu patah tulang karena stres, dan Kartal cedera punggung.
Bagi Indonesia, kisah ini relevan sebagai cermin tantangan pembinaan olahraga di negara dengan sumber daya besar namun hasil minim. Inggris, salah satu negara terkaya di dunia tenis, masih bergulat dengan masalah aksesibilitas dan biaya. LTA baru saja meluncurkan dana bantuan untuk pemain muda dari latar belakang kurang mampu. โTenis belum menjadi prioritas di Inggris,โ kata Evans, yang berasal dari kelas pekerja. โKita perlu lebih banyak pemain dari berbagai latar belakang.โ
Ke depan, pertanyaan yang menggantung: akankah Inggris mampu memutus siklus kegagalan ini, atau justru semakin terpuruk di tengah dominasi negara-negara seperti Spanyol, Serbia, dan Amerika Serikat? Dengan potensi remaja yang ada, waktu akan menjadi saksi apakah pembenahan struktural yang dilakukan LTA cukup untuk mengembalikan kejayaan tenis Inggris.



