Katie Swan Bangkit dari Mimpi Buruk Cedera, Kembali ke Wimbledon dengan Kemenangan
Baca dalam 60 detik
- Katie Swan, petenis Inggris yang sempat terpuruk di peringkat 1.114 dunia karena cedera punggung, sukses melaju ke putaran kedua Wimbledon 2025.
- Kemenangan atas Irina-Camelia Begu menjadi momen 'lingkaran penuh' setelah delapan tahun lalu ia mengalahkan lawan yang sama di turnamen yang sama.
- Swan kini bersiap menghadapi juara Australian Open 2025, Madison Keys, sementara perjalanan kariernya menjadi inspirasi bagi atlet muda Indonesia yang kerap menghadapi kendala cedera.

Katie Swan, petenis Inggris berusia 27 tahun, memastikan langkahnya ke putaran kedua Wimbledon 2025 setelah mengalahkan Irina-Camelia Begu dari Rumania, Selasa (1/7). Kemenangan ini menjadi babak baru dalam karier Swan yang nyaris kandas akibat cedera punggung kronis yang sempat membuatnya terlempar dari 1.000 besar dunia.
Bagi Swan, kemenangan ini terasa istimewa. Delapan tahun lalu, ia meraih kemenangan perdana di babak utama Grand Slam dengan mengalahkan lawan yang sama di lapangan yang sama. "Rasanya seperti kehidupan yang berbeda delapan tahun lalu dengan hari ini," ujar Swan, yang 14 bulan lalu masih berada di peringkat 1.114 dunia. Ia mengaku menonton ulang pertandingan lawan Begu pada 2018 untuk mempersiapkan diri.
Perjalanan Swan menuju titik ini tidaklah mudah. Sejak mencuat sebagai finalis junior Australia Terbuka 2015 dan menjadi pemain termuda yang mewakili Inggris di Piala Billie Jean King pada 2016, cedera punggung terus menghantuinya. Ia kerap memaksakan diri bermain dalam rasa sakit yang luar biasa. Hingga akhir 2024, Swan mencapai titik puncak keputusasaan. "Saya tidak bermain tenis lagi. Saya melatih di Amerika Serikat dan tidak yakin bisa kembali ke tenis profesional," kenangnya kepada BBC Radio 5 Live.
Kesembuhan Swan datang setelah menjalani perawatan saraf yang ia gambarkan sebagai "sangat menyakitkan". Seorang dokter menemukan bahwa sarafnya tidak berfungsi dengan baik. Setelah menjalani terapi selama beberapa pekan pada awal 2025, Swan perlahan bisa kembali berlatih dan bermain. Ia kemudian meraih enam gelar di sirkuit ITF dan menembus 200 besar dunia. Wildcard untuk Wimbledon pun datang, momen yang membuatnya menangis di meja pijat saat menjalani perawatan.
Kisah Swan menjadi pengingat betapa rentannya karier atlet terhadap cedera, terutama di Indonesia. Banyak petenis muda Tanah Air yang potensial namun harus putus di tengah jalan karena minimnya akses ke perawatan medis yang memadai. "Saya sangat beruntung berasal dari negara Grand Slam yang memberikan wildcard. Saya juga bangga pada diri sendiri karena bisa kembali ke titik ini," kata Swan, yang mengaku harus menerima kenyataan memulai dari level bawah.
Di putaran kedua, Swan akan menghadapi Madison Keys, juara Australian Open 2025. Pertandingan ini akan menjadi ujian berat, namun Swan sudah melampaui ekspektasinya sendiri. "Saya tidak ingin pensiun dengan penyesalan. Jika saya berhenti saat itu, itu yang akan terjadi. Saya senang terus berjuang setelah momen seperti hari ini," pungkasnya. Pertanyaannya, bisakah Swan melanjutkan kejutan di Wimbledon tahun ini?



