Cashfree Garap Pasar Lintas Batas: Investasi dan Pembayaran Perjalanan Jadi Target Baru
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan fintech India Cashfree Payments berencana memperluas layanan lintas batas ke investasi luar negeri dan pembayaran perjalanan pada tahun ini.
- CEO Akash Sinha menyebut margin transaksi lintas batas lebih tinggi dibandingkan pembayaran domestik karena melibatkan valuta asing dan kepatuhan regulasi.
- Cashfree menargetkan kontribusi bisnis lintas batas mencapai 25% dari total pendapatan dalam 3-4 tahun, naik dari 10% saat ini.

Perusahaan teknologi finansial India, Cashfree Payments, yang didukung oleh State Bank of India (SBI), mempercepat ekspansi ke layanan lintas batas dengan menyasar segmen investasi luar negeri dan pembayaran perjalanan. Langkah ini diambil untuk menangkap lonjakan permintaan transaksi internasional di tengah meningkatnya integrasi ekonomi India ke pasar global.
CEO Cashfree, Akash Sinha, mengungkapkan bahwa perusahaannya akan memulai uji coba layanan pembayaran untuk investasi luar negeri, perjalanan, dan transaksi bisnis-ke-bisnis (B2B) pada tahun ini. Selama ini, Cashfree hanya melayani pembayaran lintas batas untuk e-commerce. "Pasar lintas batas adalah ruang yang menarik. Bukan masalah pasar, melainkan bagaimana kami bisa menembusnya dengan produk yang tepat dan sesuai regulasi," ujar Sinha dalam wawancara dengan Reuters.
Perusahaan yang berdiri sejak 2015 ini memproses transaksi senilai USD 80 miliar per tahun untuk lebih dari satu juta bisnis. Pada tahun fiskal 2026, Cashfree mencatat pendapatan hampir INR 10 miliar (sekitar USD 105,7 juta). Saat ini, kontribusi bisnis lintas batas terhadap pendapatan baru mencapai 10%, namun perusahaan menargetkan angka tersebut naik menjadi 25% dalam tiga hingga empat tahun ke depan.
Sinha menambahkan bahwa tantangan utama bukanlah ukuran pasar, melainkan kemampuan membangun infrastruktur pembayaran yang membuat transaksi lintas batas lebih murah, cepat, dan bebas hambatan operasional. "Bisakah kami membangun produk yang tepat? Bisakah kami membuat produk yang sesuai aturan? Itulah tantangannya," tegasnya.
Fenomena ini menarik untuk dicermati dari sisi Indonesia. Sebagai negara dengan ekonomi digital yang tumbuh pesat, Indonesia juga mengalami peningkatan transaksi lintas batas, terutama di sektor e-commerce, pariwisata, dan investasi. Perusahaan fintech lokal seperti Xendit, Midtrans, atau DOKU bisa mengambil pelajaran dari strategi Cashfree yang fokus pada diversifikasi layanan lintas batas. Regulasi di Indonesia, seperti lisensi dari Bank Indonesia untuk penyelenggara jasa pembayaran, menjadi faktor kunci yang perlu diperhatikan.
Ke depan, persaingan di segmen pembayaran lintas batas diprediksi semakin ketat, tidak hanya di India tetapi juga di kawasan Asia Tenggara. Pertanyaan yang muncul: apakah pemain fintech Indonesia siap mengikuti jejak Cashfree dengan memperluas layanan ke investasi dan perjalanan, atau justru akan fokus pada penguatan pasar domestik yang masih besar?



