Aturan Baru Champions Cup: Bonus Poin Hanya untuk Selisih Tiga Try, Format 16 Besar Dirombak
Baca dalam 60 detik
- Mulai musim depan, bonus poin di fase grup Champions Cup hanya diberikan jika tim unggul tiga try atau lebih, bukan sekadar mencetak empat try.
- Format lolos ke 16 besar berubah: hanya tiga tim teratas dari masing-masing empat grup yang otomatis lolos, sisa slot ditentukan oleh akumulasi poin.
- Turnamen dimajukan ke Oktober untuk meningkatkan keterlibatan penggemar, sementara wacana pengurangan jumlah peserta menjadi 16 klub masih terganjal kontrak hingga 2030.

European Professional Club Rugby (EPCR) resmi mengumumkan perubahan signifikan pada sistem bonus poin dan format babak gugur Champions Cup mulai musim 2026-27, sebuah langkah yang dinilai akan mengubah dinamika kompetisi antar klub elite Eropa dan Afrika Selatan. Aturan baru ini dirancang untuk menjaga pertandingan tetap kompetitif hingga menit akhir, sekaligus menjawab kritik yang selama ini dialamatkan pada turnamen yang dianggap terlalu rumit.
Dalam sistem baru, bonus poin di fase grup tidak lagi diberikan secara otomatis kepada tim yang mencetak empat try atau lebih, melainkan hanya jika mereka unggul setidaknya tiga try atas lawan. Konsep ini sudah diterapkan di Top 14 Prancis dan Super Rugby belahan bumi selatan, serta akan mulai digunakan di divisi dua Inggris musim depan. Menurut EPCR, aturan lama dinilai terlalu mudah dimanfaatkan tim yang tertinggal jauh, terutama ketika lawan yang sudah unggul cenderung mengendurkan tekanan di kuarter akhir.
Perubahan lain yang tak kalah penting adalah mekanisme lolos ke babak 16 besar. Sebelumnya, empat tim teratas dari masing-masing empat grup (total 24 tim) otomatis melaju, dengan keunggulan kandang ditentukan oleh peringkat fase grup. Mulai 2026-27, hanya tiga tim teratas dari setiap grup yang lolos otomatis, sementara empat slot tersisa akan diisi berdasarkan akumulasi poin dari seluruh peserta. EPCR menegaskan bahwa dengan menjadikan kemenangan sebagai tie-breaker utama, skenario seperti musim laluโdi mana Leicester dan Bulls yang hanya meraih satu kemenangan tetap lolos, sementara Sharks dengan dua kemenangan tersingkirโtidak akan terulang.
Keputusan memajukan jadwal turnamen dari Desember ke Oktober juga menjadi sorotan. EPCR berharap langkah ini dapat menarik minat penggemar lebih awal, meskipun para kritikus menilai Champions Cup semakin tidak praktis. Logistik yang rumit akibat keterlibatan klub-klub Afrika Selatan, absennya sistem round-robin di mana semua tim saling bertemu, serta ketimpangan kualitas di antara 24 peserta menjadi catatan tersendiri. Klub-klub Afrika Selatan bahkan dikabarkan tengah mempertimbangkan masa depan partisipasi mereka di kompetisi Eropa, meskipun EPCR optimistis mereka akan tetap ambil bagian setidaknya hingga edisi 2026-27.
Wacana penyusutan jumlah peserta menjadi 16 klub, yang digelar dalam satu blok pertandingan di akhir musim, sempat mengemuka sebagai cara untuk meningkatkan gengsi turnamen. Namun, perubahan semacam itu membutuhkan persetujuan universal dari seluruh pemangku kepentingan, sementara kontrak yang ada mengunci format saat ini hingga 2030. Dengan demikian, inovasi besar masih harus menunggu.
Bagi penggemar rugbi di Indonesia, perubahan ini mungkin terasa jauh, namun memberikan gambaran bagaimana kompetisi global beradaptasi untuk menjaga keseimbangan dan daya tarik. Format baru yang lebih ketat dalam pemberian bonus poin bisa menjadi referensi bagi pengembangan liga domestik di masa depan. Pertanyaan besarnya: akankah perubahan ini cukup untuk mempertahankan minat sponsor dan penonton di tengah gempuran kompetisi olahraga lain?



