Investor AS Resmi Kuasai Exeter Chiefs: Babak Baru Rugby Inggris
Baca dalam 60 detik
- Black Knight Rugby, pemilik Bournemouth, mengakuisisi Exeter Chiefs senilai sekitar £25 juta, menjadi grup AS pertama yang menguasai klub papan atas rugby Inggris.
- Kesepakatan ini terjadi saat rugby Inggris bersiap beralih ke sistem waralaba, menghapus degradasi dan promosi, yang membuka peluang investasi asing lebih besar.
- Bagi Indonesia, tren investasi asing di liga olahraga asing bisa menjadi model bagi pengembangan liga domestik, meski dengan risiko dominasi modal asing.

Investor asal Amerika Serikat resmi mengambil alih Exeter Chiefs, salah satu klub papan atas Liga Rugby Inggris, dalam kesepakatan senilai sekitar £25 juta. Akuisisi oleh Black Knight Rugby, bagian dari Cannae Holdings yang juga memiliki klub Premier League AFC Bournemouth, menandai pertama kalinya grup AS mengendalikan klub di kasta tertinggi rugby Inggris.
Transaksi ini mendapat persetujuan para anggota klub bulan lalu dan diumumkan setelah Exeter finis sebagai runner-up Premiership musim ini. CEO Exeter Tony Rowe akan tetap menjabat dan bergabung dalam dewan eksekutif tiga orang bersama Wakil Ketua Cannae Holdings William P. Foley dan CEO Ryan Caswell. Rowe menyebut investasi ini sebagai yang terbaik di dunia olahraga dan mengaku lega karena beban finansial yang selama ini dipikulnya kini berkurang.
Langkah Black Knight mengikuti jejak investor lain yang masuk ke rugby Inggris. Tahun lalu, raksasa minuman energi Red Bull mengakuisisi Newcastle Falcons, sementara pengusaha James Dyson mengambil 50% saham Bath, juara Premiership musim ini. Masuknya modal asing ini terjadi di tengah rencana transformasi Liga Inggris menjadi sistem waralaba, di mana promosi dan degradasi dihapus dan tempat di liga ditentukan berdasarkan kelayakan finansial dan infrastruktur.
Bagi Exeter, suntikan dana segar ini menjadi penyelamat setelah klub terlilit utang akibat pandemi Covid-19. Utang tersebut memaksa klub melepas sejumlah pemain bintang dan mengalami penurunan performa, termasuk finis di posisi kesembilan—terburuk dalam sejarah klub—musim lalu. Musim ini, Exeter bangkit dengan merekrut pemain internasional seperti Len Ikitau, Tom Hooper, dan Andrea Zambonin, serta mempertahankan pemain timnas Inggris Henry Slade dan Immanuel Feyi-Waboso.
CEO Premiership Rugby Simon Massie-Taylor menyambut positif akuisisi ini. Menurutnya, kehadiran Black Knight yang telah terbukti sukses di sepak bola (Bournemouth) dan hoki es (Vegas Golden Knights) menunjukkan arah baru rugby Inggris. "Ini sinyal kuat ke mana rugby Inggris dan Premiership Rugby akan melangkah," ujarnya. Ia juga memuji peran Tony Rowe yang telah membangun Exeter dari klub divisi dua menjadi juara Eropa.
Bagi Indonesia, fenomena investasi asing di liga olahraga asing menawarkan pelajaran berharga. Masuknya modal global dapat mempercepat profesionalisme dan daya saing, seperti yang terjadi pada klub-klub Inggris. Namun, risiko ketergantungan pada investor asing dan hilangnya identitas lokal juga perlu diantisipasi. Jika Liga Indonesia ingin menarik minat investor serupa, tata kelola yang transparan dan regulasi yang jelas menjadi prasyarat mutlak.
Ke depan, tantangan Black Knight adalah mempertahankan tradisi Exeter yang dibangun selama 25 tahun terakhir sambil menerapkan model bisnis modern. Pertanyaan besarnya: apakah pendekatan waralaba ala Amerika akan cocok dengan kultur rugby Inggris yang kental dengan sejarah dan basis penggemar setia? Atau justru akan memicu resistensi dari komunitas rugby tradisional?



