Lansia Jepang Paling Kesepian di Antara Negara Maju: Hanya 13,7% Punya Teman untuk Dimintai Bantuan
Baca dalam 60 detik
- Survei pemerintah Jepang menunjukkan lansia di Negeri Sakura memiliki jaringan pertemanan dan tetangga paling rendah dibanding AS, Jerman, dan Swedia.
- Hanya 13,7% lansia Jepang mengandalkan teman untuk bantuan harian, sementara di Jerman angkanya mencapai 61%, mencerminkan isolasi sosial yang parah.
- Penurunan interaksi dengan tetangga di Jepang mencapai 16,3 poin persen dalam lima tahun, mengindikasikan krisis dukungan sosial yang perlu segera diatasi.

Lansia di Jepang ternyata menjadi kelompok yang paling terisolasi secara sosial di antara negara-negara maju. Sebuah survei terbaru dari Kantor Kabinet Jepang mengungkap bahwa hanya 13,7 persen warga berusia 65 tahun ke atas yang memiliki teman di luar keluarga untuk dimintai bantuan dalam urusan sehari-hari—jauh di bawah Jerman (61 persen), Amerika Serikat (31,1 persen), dan Swedia (26,2 persen).
Survei yang dilakukan setiap lima tahun ini dirilis bersamaan dengan Laporan Tahunan Masyarakat Aging pada 12 Juni lalu. Data dikumpulkan dari 3.831 responden di empat negara antara September dan November tahun lalu, dengan fokus pada kelompok usia 60 tahun ke atas, namun laporan akhir hanya menyertakan jawaban dari mereka yang berusia 65 tahun atau lebih. Penghuni panti jompo tidak dilibatkan.
Ketika ditanya siapa yang bisa diandalkan selain keluarga serumah jika tidak mampu melakukan tugas sendiri—misalnya mengganti bola lampu—62,1 persen lansia Jepang menjawab "anggota keluarga atau kerabat yang tinggal terpisah." Angka ini lebih rendah dibanding Jerman (73,9 persen) dan Swedia (59,8 persen), namun lebih tinggi dari AS (40,6 persen). Namun, untuk kategori "tetangga," Jepang kembali menjadi yang terendah dengan 12,9 persen, sementara Jerman mencapai 52 persen.
Fenomena ini tidak hanya soal angka. Dalam budaya Jepang yang dikenal dengan konsep kodokushi (kematian dalam kesendirian), hasil survei ini menjadi alarm bahwa jaringan sosial lansia semakin menipis. Penurunan interaksi dengan tetangga sebesar 16,3 poin persen dalam lima tahun terakhir menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Kantor Kabinet Jepang dalam pernyataannya menekankan pentingnya menciptakan ruang di mana lansia tidak merasa sendirian menghadapi masalah dan nyaman meminta bantuan.
Bagi Indonesia, data ini relevan mengingat struktur keluarga yang mulai bergeser dari tradisional ke inti. Meski budaya gotong royong masih kuat, urbanisasi dan kesibukan ekonomi mulai mengikis ikatan sosial, terutama di kota-kota besar. Jika tidak diantisipasi, Indonesia berpotensi menghadapi masalah serupa dalam beberapa dekade mendatang, seiring meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia.
Ke depan, tantangan bagi Jepang—dan negara lain—adalah bagaimana membangun kembali modal sosial yang hilang. Apakah program pemerintah seperti pusat komunitas lansia atau sistem sukarelawan tetangga cukup efektif? Ataukah diperlukan pendekatan yang lebih radikal, seperti integrasi teknologi untuk menghubungkan lansia dengan jaringan dukungan? Jawabannya akan menentukan kualitas hidup generasi emas di masa depan.



