Intimidasi Anggota DPRD ke Dokter Icha: Keluarga Tuntut Hukum Transparan
Baca dalam 60 detik
- Dokter Icha diduga bunuh diri setelah mendapat tekanan psikologis dari tiga anggota DPRD TTU saat menangani pasien.
- Ayah korban mengungkap kronologi intimidasi berupa hardikan dan ancaman pembekuan izin praktik oleh oknum dewan.
- Salah satu terduga, Veronika Lake, membantah terlibat dan mengklaim kehadirannya di RS hanya kebetulan.

Tekanan psikologis yang dialami seorang dokter muda di Nusa Tenggara Timur berujung tragis. Eliza Princila Utami Pakaenoni, atau yang akrab disapa Dokter Icha, ditemukan meninggal dunia di kediamannya di Kupang pada Jumat (26/6) lalu. Keluarga meyakini aksi bunuh diri itu dipicu intimidasi tiga anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) saat ia tengah menangani pasien di Rumah Sakit Leona Kefamenanu.
Menurut Gabriel Pakaenoni, ayah korban, anaknya mengalami tekanan berat setelah dihardik dan diancam oleh tiga oknum dewan yang mengaku memiliki wewenang atas praktik dokter di daerah tersebut. Peristiwa itu terjadi pada 13 Juni 2026 di IGD RS Leona, saat Dokter Icha menangani seorang anak korban gigitan ular. Pasien tersebut ternyata keponakan dari Therezius Lazakar, salah satu anggota DPRD TTU dari Partai Golkar yang diduga terlibat intimidasi.
Gabriel menuturkan, berdasarkan catatan yang dibuat sang anak, intimidasi berlangsung secara verbal dan non-verbal. "Mereka menunjuk-nunjuk, membentak, dan menyebut diri sebagai anggota Komisi III yang bisa membekukan praktik dokter," ujarnya di rumah duka, Senin (29/6). Meski dalam kondisi tertekan, Dokter Icha tetap menyelesaikan tugasnya sesuai standar operasional prosedur (SOP) dan bahkan berkonsultasi dengan dokter ahli bisa ular.
Kasus ini memicu keprihatinan publik atas keselamatan tenaga kesehatan di Indonesia. Gabriel mendesak aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus ini secara transparan tanpa intervensi. "Kami tidak hanya membela anak kami, tapi juga profesi dokter. Pemerintah dan rumah sakit harus menjamin rasa aman bagi tenaga medis," tegasnya. Ia juga mengungkapkan bahwa sebelum kejadian ini, Dokter Icha tidak pernah mengalami intimidasi serupa selama bertugas di puskesmas maupun RS.
Ibu korban, Nur Azizah, mengaku anaknya sempat menelepon pada malam kejadian dan menceritakan peristiwa itu berulang kali. "Dia merasa sangat terpukul," kenangnya. Sementara itu, salah satu terduga, Veronika Lake, membantah terlibat intimidasi. Ia mengaku hanya ikut serta karena kebetulan menumpang kendaraan usai acara arisan. "Saya hanya menanyakan tindak lanjut penanganan pasien dan standar pelayanan. Ucapan 'panggil wartawan' adalah usulan untuk transparansi, bukan ancaman," klaim politikus PDIP tersebut.
Perdebatan antara dua rekannya dengan dokter, menurut Veronika, sudah berlangsung sebelum ia masuk ke IGD. Namun, keluarga korban tetap mendesak agar proses hukum berjalan tanpa pandang bulu. Kasus ini menjadi pengingat akan rentannya posisi tenaga medis di hadapan kekuasaan politik lokal. Akankah insiden ini mendorong perbaikan sistem perlindungan bagi dokter di daerah? Publik menanti langkah nyata dari pemerintah dan aparat hukum.



