Sidang Syed Saddiq Ditunda: Hakim Sakit, Putusan Nasib Politik Tertunda
Baca dalam 60 detik
- Mahkamah Persekutuan menunda pembacaan putusan banding kasus Syed Saddiq karena salah satu hakim agung jatuh sakit.
- Putusan yang dinantikan ini akan menentukan masa depan politik Syed Saddiq setelah sebelumnya ia dibebaskan Mahkamah Rayuan.
- Sidang ditunda hingga 13 Juli, memperpanjang ketidakpastian hukum bagi mantan menteri muda tersebut.

Mahkamah Persekutuan Malaysia menunda pembacaan putusan atas banding jaksa terhadap pembebasan Syed Saddiq Syed Abdul Rahman setelah salah satu hakim anggota panel dinyatakan sakit, Selasa (30/6). Penundaan ini menambah ketidakpastian atas masa depan politik tokoh muda yang pernah menjabat Menteri Pemuda dan Olahraga tersebut.
Ketua Mahkamah Rayuan, Hakim Abu Bakar Jais, muncul sendirian di ruang sidang pada pukul 09.30 tanpa Hakim Che Mohd Ruzima Ghazali. Ia menjelaskan bahwa rekannya itu sedang tidak sehat dan diinstruksikan istirahat hingga esok hari. โKami siap dengan putusan, tetapi tidak etis jika diucapkan tanpa kehadiran satu anggota panel,โ ujar Hakim Abu Bakar di hadapan para pihak. Sidang kemudian dijadwalkan ulang pada 13 Juli.
Perkara ini bermula ketika Pengadilan Tinggi pada November 2023 menjatuhkan hukuman tujuh tahun penjara, dua kali cambuk, dan denda RM10 juta kepada Syed Saddiq atas empat dakwaan. Namun, pada 25 Juni lalu, Mahkamah Rayuan membatalkan vonis tersebut setelah panel tiga hakim menilai dakwaan tidak berdasar. Jaksa kemudian mengajukan banding ke Mahkamah Persekutuan.
Dakwaan pertama menyebut Syed Saddiq bersekongkol dengan bendahara Armada Bersatu, Rafiq Hakim Razali, untuk menggelapkan RM1 juta pada Maret 2020. Dakwaan kedua terkait penyalahgunaan RM120.000 dari rekening Armada Bumi Bersatu Enterprise pada April 2018. Dua dakwaan sisanya adalah pencucian uang masing-masing RM50.000 yang ditransfer ke rekening saham Syed Saddiq pada Juni 2018.
Bagi pengamat politik Malaysia, kasus ini menjadi ujian bagi sistem peradilan dan transparansi hukum. Syed Saddiq, yang juga pendiri Parti Ikatan Demokratik Malaysia (MUDA), telah lama menjadi figur kontroversial. Pembebasannya oleh Mahkamah Rayuan sempat memicu perdebatan publik tentang independensi yudikatif. Kini, penundaan putusan banding memperpanjang spekulasi tentang apakah ia akan kembali ke panggung politik atau justru terjerat hukuman.
Dengan jadwal baru pada pertengahan Juli, publik Malaysia menanti apakah Mahkamah Persekutuan akan menguatkan pembebasan atau mengembalikan vonis bersalah. Keputusan ini tidak hanya menentukan nasib Syed Saddiq, tetapi juga menjadi preseden bagi penanganan kasus korupsi politik di negeri jiran.



