Bisnis Minyak Hati Hiu Menggurita, Nelayan dan Pengepul Beroperasi Tanpa Jejak
Baca dalam 60 detik
- Pasar global minyak hati hiu diproyeksikan mencapai Rp4,4 triliun pada 2032, didorong permintaan suplemen dan kosmetik.
- Di Indonesia, rantai pasok produk ini nyaris tak terlacak: nelayan tak mencatat spesies, pengepul mencampur minyak dari berbagai jenis hiu.
- Pemerintah diberi tenggat 18 bulan mengadopsi aturan CITES, namun aturan domestik baru ditargetkan rampung Mei 2027.

Di balik maraknya suplemen kesehatan dan produk kecantikan berbahan minyak hati hiu di pasar daring, tersembunyi rantai pasok yang nyaris buta โ dari nelayan yang tak mampu mengidentifikasi spesies tangkapannya hingga pengepul yang mencampur minyak dari puluhan jenis hiu tanpa dokumentasi. Bisnis ini, yang nilainya diperkirakan menembus Rp4,4 triliun secara global pada 2032, tumbuh subur di Indonesia dengan minim pengawasan.
Di Lombok, nelayan seperti Abdul (bukan nama sebenarnya) telah puluhan tahun memburu hiu di perairan Samudera Hindia. Dalam sekali melaut, ia bisa membawa 20 hingga 40 ekor hiu botol โ sebutan lokal untuk hiu laut dalam dari famili Centrophoridae. Hiu ini diburu karena hatinya yang besar, mengandung squalene hingga 70 persen. Minyak mentah dari hati yang dijemur itu kemudian dijual ke pengepul lokal seperti Sul, yang mengemasnya dalam botol 100 ml seharga Rp112.500 atau kapsul 60 butir dengan harga sama.
Namun, di balik kemasan berlabel itu, tak ada yang bisa memastikan spesies hiu apa yang digunakan. Abdul mengaku hanya membedakan hiu dari ciri fisik: warna coklat licin, kulit kasar, atau hitam pekat. Ia tak pernah mencatat hasil tangkapan. โItu sudah SIUP kan, untuk semua jenis ikan laut, yang penting jangan yang dilarang saja,โ katanya merujuk pada Surat Izin Usaha Perdagangan yang dimilikinya.
Problem ketertelusuran ini makin rumit di tingkat pengepul. Hono (bukan nama sebenarnya), pengepul di Cilacap, menyimpan 10.000 liter minyak hati hiu di gudang yang juga berfungsi sebagai pangkalan gas. Ia mengklaim semua stoknya adalah grade A, diukur dengan hidrometer, dan dijual Rp300.000 per liter untuk partai besar. Minyak itu berasal dari nelayan di Aceh, Palembang, Lombok, hingga Maluku. Namun, Hono tak bisa memastikan spesies hiu apa yang terkandung dalam setiap jeriken. โKadang minyak dari berbagai spesies digabung,โ aku Sarmintohadi, Direktur Konservasi Spesies dan Genetik KKP.
Peneliti BRIN, Selvia Oktaviyani, menegaskan bahwa ketika minyak sudah dikemas, hampir mustahil melacak spesies asalnya tanpa analisis DNA. Ia mendesak pemerintah menerapkan verifikasi berbasis sains, terutama untuk produk olahan. โKetika bentuk morfologi sudah hilang, identifikasi visual tidak lagi memadai,โ ujarnya.
Di sisi lain, potensi pasar yang besar mendorong industri farmasi dan kosmetik global terus menyerap minyak hati hiu. Amerika Utara menguasai 36,7% pangsa pasar pada 2024. Di Asia Pasifik, kesadaran akan gaya hidup sehat turut memperbesar permintaan. Namun, konsekuensi ekologisnya mengkhawatirkan: 73,3% spesies dalam famili Centrophoridae terancam punah, menurut studi dalam jurnal Fishing for oil and meat drives irreversible defaunation of deepwater sharks and rays.
Indonesia sebenarnya telah berkomitmen mengadopsi aturan CITES yang memasukkan seluruh spesies hiu gulper ke Apendiks II pada COP20 November 2025. Tenggat 18 bulan diberikan, namun Sarmintohadi menargetkan aturan perdagangan domestik baru rampung pada Mei 2027. โHiu botol sekarang sama kayak ikan tongkol. Belum ada perizinan khusus,โ katanya. KKP bersama BRIN tengah menyusun dokumen non detriment finding (NDF) sebagai landasan ilmiah.
Alternatif nabati sebenarnya sudah tersedia. Maximus M. Taek, dosen kimia bahan alam, menyebut squalene bisa diekstrak dari biji bayam, zaitun, beras, atau tebu โ seperti yang dilakukan perusahaan AS, Amyris, sejak 2020. Kadarnya memang lebih rendah (0,5โ1,2%), namun dampak ekologisnya jauh lebih kecil. โKalau sumber seperti tumbuhan bisa ditanam dengan mudah, bisa dikembangkan,โ ujarnya.
Pertanyaannya, mampukah Indonesia mengejar ketertinggalan regulasi sebelum populasi hiu laut dalam ambruk? Ataukah bisnis minyak hati hiu akan terus berjalan di lorong gelap tanpa identitas spesies, meninggalkan jejak ekologis yang tak terpulihkan?



