Mimpi Buruk Jerman Berulang: Paraguay Hentikan Langkah di Babak 32 Besar
Baca dalam 60 detik
- Jerman tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia 2026 setelah kalah adu penalti 4-3 dari Paraguay, menambah daftar panjang kegagalan sejak juara 2014.
- Pelatih Julian Nagelsmann berada di ujung tanduk setelah timnya tampil dominan namun gagal memanfaatkan peluang, memicu spekulasi pengganti seperti Jurgen Klopp.
- Kekalahan ini menimbulkan pertanyaan serius tentang arah sepak bola Jerman, yang dinilai kehilangan 'ketajaman' dan 'aura' yang dulu ditakuti lawan.

Kekalahan adu penalti dari Paraguay di babak 32 besar Piala Dunia 2026 menjadi pukulan telak bagi Jerman, sebuah tim yang dulu identik dengan konsistensi di turnamen besar, dan kini harus menghadapi kenyataan pahit tersingkir dini untuk ketiga kalinya secara beruntun.
Dalam laga di Boston, Minggu (28/6) waktu setempat, Jerman mendominasi penguasaan bola hingga 75% namun gagal membongkar pertahanan rapat Paraguay. Tim asuhan Julian Nagelsmann tertinggal lebih dulu lewat gol Julio Enciso, mantan pemain Brighton, sebelum Kai Havertz menyamakan kedudukan di awal babak kedua. Gol Jonathan Tah dianulir VAR karena pelanggaran di awal serangan, sebuah keputusan yang memicu kemarahan kubu Jerman.
Petaka datang saat adu penalti. Havertz dan Nick Woltemade gagal mengeksekusi, sementara Jonathan Tah melambungkan tembakannya. Paraguay, yang hanya dua kali gagal, akhirnya menang 4-3 melalui Jose Canale. Ini adalah kekalahan pertama Jerman dalam adu penalti di Piala Dunia setelah sebelumnya selalu menang dalam empat kesempatan.
"Sangat pahit tersingkir setelah melawan Paraguay," ujar Nagelsmann seusai laga. "Ini eliminasi ketiga berturut-turut, kami bukan lagi tim kelas satu." Pernyataan itu mengundang spekulasi tentang masa depannya. Mantan bek Jerman Arne Friedrich menilai Nagelsmann harus menerima konsekuensi, sementara Thomas Hitzlsperger menyebut situasi ini "tidak bisa diterima" untuk negara sebesar Jerman.
Kritik juga datang dari Jurgen Klopp, yang bekerja sebagai komentator televisi Jerman. Ia menyoroti performa buruk Jerman saat kalah 1-2 dari Ekuador di laga grup sebelumnya. "Kami memilih metode yang salah di lapangan," kata Klopp. Namun pelajaran itu tak diindahkan saat menghadapi Paraguay yang fisik dan disiplin.
Bagi Indonesia, kekalahan Jerman menjadi pengingat bahwa sepak bola tak melulu soal penguasaan bola. Tim nasional Garuda, yang tengah membangun identitas permainan, bisa belajar dari kasus Jerman: keseimbangan antara penguasaan, ketajaman, dan mentalitas juara adalah kunci. Kegagalan Jerman juga membuka peluang bagi tim-tim non-unggulan untuk percaya diri, mirip dengan semangat yang ditunjukkan Paraguay.
Hitzlsperger menambahkan, "Kami kehilangan aura yang membuat lawan takut. Tim lain menghormati kami, tapi tidak lagi takut." Menurutnya, pembinaan pemain di Jerman terlalu fokus pada taktik dan penguasaan bola, melupakan aspek fisik dan 'ketajaman' yang dimiliki Argentina atau Prancis. "Kami butuh pemain yang bisa 'jahat' di lapangan, seperti Argentina," tegasnya.
Paraguay selanjutnya akan menghadapi Prancis atau Swedia di babak 16 besar, sementara Jerman harus pulang lebih awal. Jurnalis sepak bola Jerman Raphael Honigstein menilai kekalahan ini akan berdampak besar. "Anda bisa tersingkir, tapi tidak dengan cara seperti ini melawan Paraguay. Ini bukan kekalahan tanpa konsekuensi." Pertanyaan besarnya: akankah Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) tetap mempertahankan Nagelsmann, atau memulai babak baru tanpa dirinya?



