IHSG Terjun Bebas ke 5.731 di Hari Terakhir Semester I, Investor Cemas
Baca dalam 60 detik
- IHSG anjlok lebih dari 1,5% pada pembukaan perdagangan Selasa, menembus level psikologis 5.731 di tengah tekanan geopolitik dan data tenaga kerja AS.
- Pelemahan indeks terjadi meski bursa Asia-Pasifik menguat dan indeks dolar melemah, menunjukkan kekhawatiran investor domestik terhadap ketidakpastian global.
- DPR dan pemerintah menggelar rapat koordinasi ekonomi untuk merumuskan langkah mitigasi, sementara pasar menantikan data JOLTs yang bisa memicu sikap hawkish The Fed.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka dengan tekanan jual yang masif pada perdagangan Selasa (30/6/2026), jatuh lebih dari 1,5% dan menyentuh level psikologis 5.731 โ titik terendah dalam beberapa pekan terakhir โ di tengah ketidakpastian geopolitik global dan antisipasi data ketenagakerjaan Amerika Serikat.
Pada pukul 09.00 WIB, IHSG tercatat turun 0,33% ke 5.801,45, namun dalam hitungan menit koreksi membengkak menjadi 1,54% hingga menyentuh 5.731. Nilai transaksi awal mencapai Rp 316 miliar dengan volume 164,68 juta saham. Saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, DSSA, dan MAPI mendominasi perdagangan. Sebanyak 168 saham menguat, 90 melemah, dan 298 stagnan, mencerminkan dominasi tekanan jual.
Hari ini merupakan penutupan perdagangan semester I 2026. Para analis memperkirakan sentimen negatif masih akan membayangi IHSG hingga akhir sesi, terutama karena ketidakpastian perundingan AS-Iran. Iran menegaskan tidak akan berunding dengan AS dalam waktu dekat, meskipun kedua negara sama-sama mengirim delegasi ke Qatar. Pernyataan juru bicara Kemlu Iran, Esmaeil Baghaei, bahwa โtidak ada agenda perundinganโ membuat gencatan senjata 17 Juni yang rapuh semakin diragukan. Konflik di Selat Hormuz sempat mengganggu pasokan minyak global dan menjadi tekanan politik bagi Presiden Donald Trump menjelang pemilu Kongres November.
Dari dalam negeri, pimpinan DPR bersama jajaran pemerintah menggelar rapat koordinasi ekonomi pada Senin (29/6) untuk membahas penguatan fiskal dan moneter. Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menyatakan pertemuan itu difokuskan pada mitigasi tantangan ekonomi terkini. Hadir antara lain Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Wakil Ketua DEN Mari Elka Pangestu, dan Deputi Gubernur BI Thomas Djiwandono. Langkah ini diharapkan bisa menahan laju pelemahan rupiah dan IHSG, meskipun pelaku pasar masih menanti data JOLTs AS yang dirilis hari ini. Jika data lowongan kerja AS menguat, The Fed berpotensi mempertahankan sikap hawkish, menekan lebih lanjut nilai tukar dan indeks saham Indonesia.
Di sisi lain, pelemahan indeks dolar AS ke 101,1 memberikan secercah harapan bagi rupiah. Investor asing mulai melepas aset dolar, membuka peluang aliran modal masuk ke pasar keuangan Indonesia. Namun, optimisme itu masih dibayangi oleh ketidakpastian global dan kekhawatiran akan perlambatan ekonomi domestik. Bursa Asia-Pasifik yang mayoritas menguat โ Nikkei naik 1,41%, Kospi 1,17% โ tidak cukup kuat untuk mendorong IHSG keluar dari zona merah. Reli Wall Street pada Senin malam, dengan Dow Jones menembus 52.000 untuk pertama kalinya, juga belum mampu mengubah sentimen di pasar Indonesia.
Pertanyaannya, akankah IHSG mampu bertahan di atas level 5.700 hingga akhir sesi, atau justru melanjutkan koreksi lebih dalam? Pelaku pasar tampaknya masih wait and see, menunggu kejelasan arah kebijakan The Fed dan perkembangan negosiasi AS-Iran. Tanpa katalis positif yang kuat, tekanan jual diperkirakan masih akan mendominasi pada awal semester II.



