Tur Kampus NUS dan NTU Dijual Ilegal di GetYourGuide, Kampus Ambil Sikap Tegas
Baca dalam 60 detik
- Tur kampus NUS dan NTU yang tidak resmi ditemukan dijual di platform GetYourGuide dengan harga hingga S$300 per orang, memicu peringatan keras dari kedua universitas.
- Pemandu wisata ilegal, termasuk mahasiswa PhD, meraup penghasilan hingga S$40 per jam, jauh lebih tinggi dari upah duta kampus resmi yang hanya S$9-S$15 per jam.
- NUS dan NTU kini meninjau langkah hukum dan memperketat pengawasan untuk menghentikan praktik ini, sementara permintaan tur kampus dari keluarga Asia terus meningkat.

Tur keliling kampus National University of Singapore (NUS) dan Nanyang Technological University (NTU) yang tidak resmi kini marak dijual di platform pemesanan daring GetYourGuide, dengan banderol harga mencapai S$300 per orang. Fenomena ini memicu respons tegas dari kedua universitas yang menegaskan tidak pernah mengizinkan pihak ketiga memasarkan tur semacam itu.
Penelusuran media menemukan setidaknya lima daftar tur untuk kedua kampus tersebut di GetYourGuide, yang dioperasikan oleh EliteStormUK dan Trip2EU. Harga yang dipatok bervariasi, mulai dari S$63 hingga S$300, jauh lebih tinggi dibanding tur resmi yang ditawarkan NUS seharga S$50 per orang. NTU sendiri tidak memiliki program tur harian seperti NUS, sehingga celah ini dimanfaatkan oleh operator ilegal.
Seorang mahasiswa PhD asal China yang menjadi pemandu tur ilegal mengaku telah bekerja selama sebulan dan memimpin hingga empat sesi per minggu. Ia mendapat bayaran sekitar S$40 per jam, lebih dari dua kali lipat upah duta kampus resmi NTU yang hanya berkisar S$9 hingga S$15 per jam. "Ini membantu membayar sewa dan cukup nyaman karena lokasinya di kampus," ujarnya dalam bahasa Mandarin.
Menanggapi temuan ini, NUS dan NTU mengeluarkan pernyataan resmi. Juru bicara NTU menegaskan bahwa operator tersebut tidak memiliki otorisasi dan universitas sedang "meninjau opsi untuk mengatasi daftar tidak sah ini". Sementara itu, NUS telah memasang peringatan di akun WeChat-nya, mengancam akan menindak tegas pemandu ilegal, termasuk melaporkannya ke aparat penegak hukum.
Praktik ini menyoroti meningkatnya minat keluarga Asia, terutama dari China dan Malaysia, untuk mengunjungi kampus-kampus bergengsi sebagai bentuk persiapan pendidikan anak. Trip2EU, salah satu operator, menyebut NUS dan NTU sebagai "destinasi aspirasional" bagi keluarga Asia. Mereka mengaku menerima 100 hingga 200 peserta per bulan, dengan permintaan yang terus tumbuh.
Bagi Indonesia, fenomena ini relevan mengingat banyak orang tua Indonesia yang juga berminat mengirim anak ke universitas top Asia. Mereka perlu mewaspadai tur ilegal yang mungkin tidak memberikan akses penuh ke fasilitas kampus, seperti ruang kuliah atau perpustakaan yang memerlukan kartu akses. Tur ilegal juga berisiko melanggar aturan kampus dan dapat dihentikan paksa oleh petugas keamanan.
NTU sendiri mensyaratkan agen perjalanan untuk mendapatkan persetujuan sebelumnya, dan pengunjung harus mematuhi aturan kampus, termasuk larangan berhenti di area tertentu. NUS juga memberlakukan pembatasan sejak dua tahun lalu, di mana hanya pemandu berlisensi yang boleh membawa tur. Pelanggar akan menghadapi sanksi disiplin dan dilaporkan ke otoritas.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah kedua universitas akan mengambil langkah hukum terhadap operator seperti EliteStormUK dan Trip2EU, atau justru memperluas program tur resmi untuk memenuhi permintaan yang ada. Dengan meningkatnya minat dari keluarga Asia, kampus-kampus di Singapura mungkin perlu mempertimbangkan untuk melegalkan tur komersial dengan pengawasan ketat, demi keamanan dan kenyamanan semua pihak.



