Iran Siap Masuk Bank BRICS, Isyarat Perkuat Jaringan Keuangan Non-Dolar
Baca dalam 60 detik
- Gubernur Bank Sentral Iran menyatakan negara itu akan segera bergabung dengan New Development Bank (NDB), lembaga keuangan bentukan BRICS.
- Langkah ini dinilai sebagai upaya Iran mencari alternatif sistem keuangan global di tengah sanksi AS dan sekutunya yang masih membelenggu.
- Jika terealisasi, keanggotaan Iran di NDB dapat mempercepat tren dedolarisasi dan membuka peluang baru bagi negara berkembang, termasuk Indonesia.

Teheran menegaskan komitmennya untuk segera menjadi anggota New Development Bank (NDB), lembaga pembiayaan pembangunan yang didirikan oleh negara-negara BRICS. Pernyataan itu disampaikan Gubernur Bank Sentral Iran, Abdolnaser Hemmati, di sela-sela pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral BRICS yang digelar di India, Rabu (12/8).
Langkah ini bukan sekadar formalitas diplomatik. Di tengah sanksi ekonomi yang masih membelenggu Iran, keanggotaan di NDB dipandang sebagai jalur strategis untuk mengakses pembiayaan pembangunan tanpa harus bergantung pada sistem dolar AS yang kerap menjadi alat tekanan politik. Hemmati menyebut NDB sebagai hasil kerja sama paling penting di antara negara-negara BRICS, dan Iran akan segera mengambil bagian di dalamnya.
NDB sendiri berdiri pada 2015 atas inisiatif Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan. Bank ini dirancang untuk membiayai proyek infrastruktur dan pembangunan berkelanjutan di negara-negara berkembang. Seiring waktu, keanggotaannya bertambah dengan masuknya Uni Emirat Arab, Mesir, dan sejumlah ekonomi emerging lain. Uzbekistan tercatat sebagai anggota kesepuluh yang bergabung pada 5 Juni lalu.
Bagi Iran, akses ke NDB menjadi penting karena negara itu belum mencapai kesepakatan damai dengan AS dan Israel. Kondisi ini membuat Teheran semakin terdorong mencari kanal finansial alternatif di luar sistem dolar. Hemmati juga mengungkapkan keyakinannya bahwa perdagangan antarnegara BRICS dapat dilakukan dengan mata uang nasional masing-masing, dan Iran sedang menjajaki kerja sama moneter bilateral maupun trilateral dengan anggota lain.
Kendati demikian, pihak NDB belum memberikan konfirmasi resmi terkait rencana keanggotaan Iran. Divisi komunikasi korporat bank tersebut menyatakan tidak dapat memverifikasi informasi yang beredar. Namun, pernyataan Hemmati yang dimuat media pemerintah Iran menunjukkan adanya pembahasan serius di tingkat elit.
Langkah Iran ini sejalan dengan upaya BRICS yang semakin gencar mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Sejak beberapa tahun terakhir, blok ekonomi yang kini mewakili sebagian besar populasi dunia itu aktif mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi dagang dan investasi. Pertemuan di India yang menandai keketuaan New Delhi tahun ini menjadi ajang untuk memperkuat agenda tersebut.
Bagi Indonesia, perkembangan ini patut dicermati. Sebagai negara dengan volume perdagangan internasional yang besar, Indonesia memiliki kepentingan untuk mendiversifikasi kanal pembayaran dan pembiayaan. Kehadiran Iran di NDB dapat memperkuat posisi bank itu sebagai alternatif bagi lembaga keuangan global seperti IMF dan Bank Dunia. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin Indonesia akan semakin aktif menjajaki kerja sama keuangan dengan BRICS, baik melalui NDB maupun skema bilateral lain.
Namun, perlu diingat bahwa sanksi AS masih menjadi bayang-bayang bagi setiap negara yang berbisnis dengan Iran. Meski NDB menegaskan keterbukaannya bagi semua anggota PBB, implementasi teknis keanggotaan Iran bisa menjadi rumit. Pertanyaannya, akankah anggota NDB lain berani mengambil risiko politik demi solidaritas ekonomi? Atau justru keanggotaan Iran akan menjadi ujian kredibilitas BRICS sebagai blok yang benar-benar independen dari hegemoni dolar?



