Amy Hunt Kunci Emas Kedua di 200m, Incar Quadruple Bersejarah di Birmingham
Baca dalam 60 detik
- Sprinter Inggris Amy Hunt memastikan emas kedua di Kejuaraan Eropa setelah menjuarai 200m dengan catatan waktu 22,19 detik, mengungguli rekan senegaranya Dina Asher-Smith.
- Kemenangan ini membuka peluang Hunt untuk menjadi atlet pertama yang meraih empat emas dalam satu edisi Kejuaraan Eropa, dengan dua nomor estafet masih menantinya.
- Dina Asher-Smith harus puas dengan perunggu, sementara Rhasidat Adeleke dari Irlandia merebut perak dengan rekor nasional baru, menandai persaingan ketat di nomor sprint putri Eropa.

Birmingham, 8 Agustus 2025 โ Amy Hunt menegaskan statusnya sebagai sprinter tercepat Eropa saat ini dengan merebut emas nomor 200 meter putri pada Kamis malam. Kemenangan ini menjadi yang kedua bagi Hunt di Kejuaraan Atletik Eropa 2025 setelah sebelumnya sukses di nomor 100 meter. Dengan dua emas di tangan, atlet berusia 24 tahun itu kini mengincar pencapaian langka: empat emas dalam satu edisi kejuaraan, sebuah rekor yang belum pernah tercipta sepanjang sejarah kompetisi ini.
Pada final yang berlangsung di Alexander Stadium, Hunt mencatat waktu terbaik musimnya, 22,19 detik, mengungguli Dina Asher-Smith yang memimpin di tikungan pertama. Namun, kecepatan Hunt di lintasan lurus terakhir membuatnya melesat dan melewati garis finis lebih dulu. Rhasidat Adeleke dari Irlandia merebut perak dengan selisih tipis 0,01 detik di depan Asher-Smith, sekaligus memecahkan rekor nasional Irlandia. Adapun Asher-Smith harus puas dengan perungguโmedali Eropa kesembilannya sepanjang karier, hanya terpaut satu dari rekor Irena Szewinska.
Bagi Hunt, kemenangan ini adalah pembuktian setelah ia sempat kesulitan di nomor 200m pada awal musim panas. "Dua dari empat, sayang!" serunya kepada BBC. "Minggu ini sungguh ajaib dan akan kuingat seumur hidupku." Namun, Hunt menegaskan tidak akan merayakan sebelum semua nomor selesai. Ia masih akan berlaga di estafet 4x100m putri dan estafet campuran pada akhir pekan ini. "Tidak ada perayaan, tidak ada sampanye sampai Minggu malam," katanya. "Kami harus menunjukkan siapa negara sprint terbaik di Eropa."
Drama juga mewarnai performa Asher-Smith. Setelah finis kelima di 100m, ia berusaha bangkit di 200m untuk mengejar gelar ketujuhnya yang bersejarah. Namun, ia mengakui kekalahannya dengan lapang dada. "Kecewa dapat perunggu, tapi setelah 10 tahun sejak medali pertama, ini pencapaian luar biasa bisa terus bersaing," ujarnya. "Tidak peduli apa yang terjadi dalam hidupku, aku tetap ingin menjadi salah satu wanita tercepat di dunia." Analis BBC, Allison Curbishley, menilai Asher-Smith berjuang keras tetapi kehilangan ritme di 40 meter terakhir, sementara Hunt tampil seperti "kereta yang melaju" di tikungan terakhir.
Dominasi Inggris di nomor sprint pria juga berlanjut. Romell Glave dan Jeremiah Azu memastikan finis 1-2 di 100m putra, sementara Matthew Hudson-Smith merebut emas 400m pada Rabu. Dengan tambahan emas Hunt, Inggris kini memuncaki klasemen sementara medali di Birmingham. Namun, perhatian publik Inggris tertuju pada upaya Hunt untuk menciptakan sejarah. Mantan juara dunia heptatlon, Jessica Ennis-Hill, memuji penampilan Hunt: "Dia luar biasa, keluar dari tikungan seperti kereta. Dina dan Amy berdampingan sangat seru, dan Amy membuktikan ucapannya."
Bagi Indonesia, pencapaian Hunt menjadi pengingat akan pentingnya pembinaan atlet sprint sejak dini. Meski Indonesia belum memiliki tradisi kuat di nomor lari cepat, kesuksesan Hunt yang baru berusia 24 tahun menunjukkan bahwa konsistensi latihan dan mental juara mampu mengantarkan atlet ke panggung tertinggi Eropa. Federasi Atletik Indonesia (PASI) dapat menjadikan ini sebagai momentum untuk mengevaluasi program pelatihan sprint, terutama dalam menghadapi SEA Games dan Asian Games mendatang. Kehadiran pelatih asing dan fasilitas lintasan yang memadai menjadi kunci untuk melahirkan sprinter-sprinter masa depan Indonesia.
Dengan dua nomor estafet yang masih menanti, Hunt berdiri di ambang sejarah. Jika ia mampu mempersembahkan dua emas lagi, namanya akan tercatat sebagai atlet pertama yang meraih empat gelar Eropa dalam satu edisi. Pertanyaannya, akankah tekanan untuk "menjadi ikon" justru menjadi bumerang, atau justru memacu performa terbaiknya? Semua akan terjawab pada Minggu malam di Birmingham.



