Jadwal Padat dan Cedera Beruntun: Apakah Tenis Profesional Kian Tidak Ramah bagi Pemain?
Baca dalam 60 detik
- Jack Draper mundur dari Wimbledon sehari setelah mengkritik tingginya angka cedera, menambah daftar panjang pemain top yang absen.
- Data menunjukkan durasi pertandingan dan intensitas pukulan meningkat, sementara musim kompetisi hampir 11 bulan tanpa jeda panjang.
- Para pemain dan pakar mendesak perubahan jadwal, perlindungan pemain muda, dan pendekatan data terpadu untuk mencegah kelelahan fisik.

Kekhawatiran Jack Draper mengenai maraknya cedera di tenis profesional seolah menjadi ramalan yang terwujud. Kurang dari 24 jam setelah menyebut situasi cedera "cukup mengkhawatirkan", petenis Inggris itu harus mundur dari Wimbledon karena masalah lengan yang sudah lama ia derita. Draper bergabung dengan deretan bintang lain seperti Carlos Alcaraz yang juga absen di turnamen Grand Slam tersebut akibat cedera pergelangan tangan.
Fenomena ini bukan sekadar nasib buruk. Draper, yang pernah menempati peringkat empat dunia, meyakini tuntutan fisik yang luar biasa berat—musim panjang dengan istirahat singkat, pertandingan lebih lama, dan persaingan yang semakin sengit—menjadi biang keladi. "Ketika saya melihat undian, semuanya cedera bahu, lengan, pergelangan tangan. Mereka benar-benar perlu mengevaluasi apa yang terjadi di tur," ujarnya. Mantan petenis nomor satu dunia Tracy Austin menambahkan, "Banyak pemain bermain lebih banyak turnamen daripada yang baik bagi mereka, baik secara mental maupun fisik."
Emma Raducanu, rekan senegara Draper, juga harus menepi karena stres fraktur di kaki bagian bawah. Ia meyakini jadwal padat di turnamen Queen's—bermain lima pertandingan dalam enam hari, termasuk tiga laga dalam 30 jam akibat hujan—menjadi pemicu. Raducanu baru kembali setelah absen empat bulan, dan langsung dihadapkan pada beban berat tanpa transisi. "Anda tidak bisa keluar dan bermain 20-30 menit lalu meningkat perlahan. Anda langsung dilempar ke kedalaman," kata mantan petenis Naomi Broady.
Para ahli olahraga menilai bahwa tenis telah mencapai titik kritis. Data menunjukkan pertandingan dan reli semakin panjang, pemain bergerak lebih cepat, dan pukulan semakin keras. Musim yang nyaris tanpa jeda membuat tubuh tidak punya waktu pulih. Petenis peringkat sembilan dunia Daniil Medvedev menyerukan pemangkasan musim dan perpanjangan masa istirahat. Sementara itu, Stefanos Tsitsipas menekankan bahwa latihan berlebihan dan jadwal padat berturut-turut membuat cedera akibat pemakaian berlebih (overuse) hampir tak terhindarkan.
Bagi Indonesia, fenomena ini relevan mengingat semakin banyak petenis muda Tanah Air yang meniti karier di turnamen internasional. Federasi Tenis Indonesia (Pelti) dan pemangku kepentingan perlu mencermati risiko overuse pada atlet muda. Anne Keothavong, kapten Piala Billie Jean King Inggris, mengingatkan bahwa banyak pemain telah menumpuk jam latihan sejak usia dini, yang berkontribusi pada cedera di kemudian hari. "Beban pada tubuh bukan hanya dari 12 bulan terakhir, tetapi dari semua jam yang Anda investasikan sejak muda," katanya.
Solusi yang diusulkan meliputi pengaturan jadwal yang lebih cerdas—misalnya mengurangi pertandingan larut malam—serta pendekatan data terpadu untuk memantau kesehatan pemain. ATP dan WTA sudah membatasi jumlah turnamen senior untuk remaja, tetapi efektivitasnya masih dipertanyakan. Pertanyaannya, akankah otoritas tenis dunia bergerak cepat sebelum gelombang cedera semakin parah, atau justru membiarkan para bintang terus berguguran?



