Gagal Sepakati Lisensi FIFA, Strikerz PHK Lebih dari Separuh Karyawan
Baca dalam 60 detik
- Strikerz, pengembang game sepak bola UFL, mengurangi jumlah karyawan dari 450 menjadi 200 orang setelah negosiasi lisensi FIFA gagal.
- Gagalnya kesepakatan dengan FIFA membuat rencana gelaran event dalam game terkait Piala Dunia 2026 batal, memicu krisis internal yang sudah lama memburuk.
- PHK ini belum dikonfirmasi resmi oleh Strikerz, namun sumber menyebut masalah keuangan dan basis pemain yang menurun menjadi pemicu utama.

Strikerz Inc., pengembang di balik game sepak bola UFL, dilaporkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal dengan mengurangi lebih dari setengah total karyawannya. Langkah drastis ini terjadi setelah negosiasi lisensi dengan FIFA gagal total, menggagalkan rencana besar mereka untuk menggelar event dalam game berskala global.
Menurut laporan media Rusia App2Top, jumlah pegawai Strikerz anjlok dari 450 orang menjadi hanya 200 orang. Sumber internal menyebutkan bahwa masalah di tubuh perusahaan sudah "memburuk sejak lama," dan kegagalan mencapai kesepakatan lisensi dengan FIFA menjadi pemicu utama. Strikerz sebelumnya berharap bisa menyelenggarakan turnamen dalam game yang terkait dengan Piala Dunia 2026, sebuah langkah yang dinilai krusial untuk menarik pemain dan sponsor.
Game UFL sendiri dirilis secara gratis pada Desember 2024 untuk konsol PlayStation 5 dan Xbox Series X|S. Meski sempat menarik perhatian sebagai pesaing potensial eFootball dan EA Sports FC, basis pemainnya dilaporkan terus menurun. Minimnya konten dan lisensi klub besar membuat game ini kesulitan bersaing di pasar yang sudah jenuh. Kegagalan mendapatkan lisensi FIFA menjadi pukulan telak, karena tanpa branding resmi turnamen sepak bola terbesar, daya tarik UFL semakin pudar.
Bagi industri game Indonesia, kabar ini menjadi pengingat betapa pentingnya lisensi dan kemitraan strategis dalam bisnis game olahraga. Pengembang lokal yang bermimpi membuat game sepak bola dengan skala global harus siap menghadapi persaingan ketat dan biaya lisensi yang tinggi. Kegagalan Strikerz juga menunjukkan bahwa model free-to-play tidak menjamin kesuksesan jika tidak diimbangi dengan konten berkualitas dan basis pemain yang loyal.
Hingga berita ini diturunkan, Strikerz belum memberikan pernyataan resmi mengenai PHK tersebut. Analis memperkirakan bahwa langkah selanjutnya akan sangat menentukan nasib UFL: apakah studio ini akan bangkit dengan strategi baru, atau justru menjadi korban lain dari persaingan sengit di industri game sepak bola. Pertanyaan besarnya, mampukah Strikerz bertahan tanpa lisensi FIFA dan dengan tim yang jauh lebih kecil?



